Klik Pacitan: Krisis air bersih
Tampilkan postingan dengan label Krisis air bersih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisis air bersih. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2019

Mencuci Di Sungai, Wanita Paruh Baya Ditemukan Tewas


TULAKAN - lensapacitan.com, Dampak krisis air bersih yang melanda Kabupaten Pacitan, Semakib beragam. Tak hanya mencari air dari dalam goa, maupun terpaksa mengkonsumsi air kotor, karena tak ada air yang layak untuk mereka konsumsi.

Bahkan di Kecamatan Tulakan, warga harus kehilangan satu anggota keluarga, karena tewas saat mengambil air disungai. Jumat (18/10) lalu, Katini, 33, warga Dusun Sepang, Desa/Kecamatan Tulakan, tewas saat mencari air. Dia ditemukan tak bernyawa di sungsi desa setempat sekitar pukul 09.00.

‘’Karena sulit air, korban waktu itu hendak mencuci pakaian ke sungi,’’ kata Kapolsek Tulakan Iptu Agus Irianto.

Nahas, Katini malah ditemukan tak bernyawa di sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Agus menjelaskan, penemuan jasad korban kali pertama diketahui oleh salah seorang warga yang melintas di sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Selanjutnya, perangkat desa setempat melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tulakan.

‘’Kami menuju TKP bersama petugas medis dari Puskesmas Setempat. Hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Dari keterangan pihak keluarga, korban memiliki riwayat sakit epilepsi,’’ pungkas kapolsek. (not)

Senin, 23 September 2019

Warga Pacitan Terpaksa Konsumsi Air Kotor Karena Kekeringan


ARJOSARI – lensapacitan.com, Sejumlah wilayah di Kabupaten Pacitan mengalami kekeringan dampak dari kemarau panjang. Kesulitan mendapatkan air bersih, warga terpaksa memanfaatkan sumber air yang kurang layak untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Sekitar belasan Kepala Keluarga Di RT. 05/07, Dusun Ngasem, Desa Gembong Kecamatan Arosari terpaksa mengkonsumsi air kotor dan berbau, wilayah itu tak pernah tersentuh dropping air dari BPBD setempat, lantaran medan yang tak bisa dijangkau kendaraan roda empat.

“Wilayah kami memang susah dilalui kendaraan besar, jadi kalau ada bantuan air ya hanya di wilayah yang terjangkau,” Ungkap Marjuni salah satu warga.

Mereka harus berjalan kaki sejauh satu kilometer melewati bukit untuk menuju mbelik (sumber mata air) di sungai terdekat. Kondisi air di sungai yang menjadi jujukan warga itu sangat memprihatinkan. Selain debit airnya yang semakin mengecil. Air yang digunakan warga tersebut keruh dan dipenuhi kotoran daun kering.




“Sumber yang ada dan terdekat ya hanya disungai ini, itupun kondisinya seperti ini,” lanjutnya.

Untuk mendapatkan air warga pun harus antri, selama setengah jam hingga satu jam, tergantung banyaknya warga yang mengantri. Air sungai itu mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti minum, memasak dan mandi.

“Paling banyak warga ambil air itu pagi dan sore, jadi harus bergantian mendapatkan airnya,” lanjut Siti Sukamti, warga lainnya.

Warga tak lagi memperdulikan kesehatannya, Air yang tidak layak konsumsi itu terpaksa mereka gunakan lantaran sumber lain sudah mengering. “Adanya Cuma ini ya mau gimana lagi,” imbuhnya.

Setelah mendapatkan air, warga harus berjalan menaiki bukit dengan membawa ember berisi air, ini mereka lakukan setiap harinya selama musim kemarau. “Ada sekitar 16 kepala keluarga yang mengambil air dari sini, yang terdekat berjarak 500 Meter dari rumah,” Jelasnya lagi.

Warga Dusun Ngasem, hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah daerah dalam mengatasi kekeringan yang mereka alami setiap tahunnya. (not)

Minggu, 15 September 2019

Bupati Pacitan Salurkan Bantuan Air Bersih Ke Wilayah Kekeringan

SUDIMORO - lensapacitan.com, Pemerintah Kabupaten Pacitan terus melakukan droping air bersih kesejumlah wilayah terdampak kekeringan. salah satunya di Kecamatan Sudimoro Pacitan. Bupati Pacitan turun langsung menyalurkan air bersih kepada warga. (11/9/2019).

"Yang menjadi tantangan kita pada musim kemarau adalah kekeringan, warga kesulitan mendapatkan air bersih," Kata Bupati Pacitan, Indartato.

Wilayah tersebut menjadi prioritas bupati karena sudah 4 bulan warga sekitar kesulitan air bersih. Puluhan warga mengantri mendapatkan air bersih dari orang nomor satu di pacitan tersebut.

"Wilayah ini menjadi salah satu yang terdampak kekeringan, warga harus mengalirkan air menggunakan pipa sejauh 2 kilometer, namun tidak setiap hari bisa mengalir," Jelas Bupati.

Bupati Pacitan  Indartato, prihatin dengan kondisi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. ia mengungkapkan droping air akan terus dilakukan secara bergantian, mengingat kebutuhan air bersih sangat dibutuhkan warga.

Hal itu tak mudah dilakukan karena terkendala dengan jumlah armada dan jarak tempuh sumber air terlampau jauh. Pemerintah juga telah melakukan survei lapangan mencari sumber air yang bisa di manfaatkan saat musim kemarau.

"Pemerintah berupaya mengatasi kesulitan air bersih dengan melakukan droping, namun karena keterbatasan armada yang kita miliki, sehingga bantuan tersebut belum bisa merata," Lanjutnya.

Saat ini sebanyak 49 desa di 12 kecamatan di Pacitan alami kekeringan.  pemerintah terus berupaya meringankan beban masyarakat dengan melakukan droping ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.

"Data tersebut kemungkinan bisa saja bertambah, karena musim penghujan diprediksi baru akan terjadi pada akhir bulan Oktober nanti," pungkas Indartato.(not)

Rabu, 14 Agustus 2019

Perjuangan Warga Kalipelus Mencari Air di Musim Kemarau


KEBONAGUNG - lensapacitan.com, Krisis air bersih yang terjadi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Semakin hari semakin parah, warga di sejumlah wilayah kebingungan mendapatkan air,  sumber air yang terdekat mengering.

Warga Dusun Bibit, Desa Kalipelus, Kecamatan Kebonagung setiap hari mereka harus menumpuh jarah 1 kilometer dari rumah mereka untuk mengambil air dari sumber air yang mereka namai "kali gupit".

"1 kilometer itu rumah yang paling dekat dari sini, ada yang harus menempuh jarak 2 kilometer untuk mengambil air di kali gupit ini," kata Kabul salah seorang warga Dusun Bibit yang sedang mengambil air.

Biasanya, warga mendapatkan pasokan air dari saluran air yang dibangun desa setempat. Namun saat ini, sumber yang dialirkan ke pemukiman warga itu mengering.
"Entah mengering atau gimana, saluran air itu sudah tidak mengalir, ya terpaksa ambil air kesini," Lanjutnya.

Kali gupit yang menjadi andalan warga di dua dusun yaitu dusun Bibit dan Batulapak, Desa Kalipelus ini pun kondisi debit airnya mulai mengecil.

"Kalau pagi, tampunganya hampir penuh, tapi warga yang datang banyak sekali, kalau yang datang siang ya harus nunggu hampir setengah jam agar air bisa diambil menggunakan gayung," Lanjut Kabul.

Karena jarak sumber yang jauh dari pemukiman penduduk menjadi salah satu kendala warga saat mengambil air. Sehingga memaksa mereka harus mengangkut wadah yang sudah terisi air dengan kendaraan bermotor.

"Dapat satu jerigen, dibawa pulang,  terus sore datang lagi," ungkap Sukatman warga lainnya.

Krisis air bersih yang di alami warga setempat juga memaksa mereka untuk menghemat dalam penggunaannya. bahkan tak jarang mereka hanya mandi sekali dalam sehari. (not)

Senin, 22 Juli 2019

Kesulitan Air Bersih, Warga Rela Antri Disumber Air Hingga Malam


NGADIROJO - lensapacitan.com, Kemarau panjang membuat warga di Kecamatan Ngadirojo mengalami krisis air bersih. Warga di Desa bodag ini misalnya, untuk mendapatkan air, mereka harus mengantri hingga berjam-jam disalah satu seumber air yang tersisa. "Warga harus bergantian mengambil air,  bisa sampai berjam-jam kalau airnya tinggal sedikit," Ungkap Retno Tri Setyowati salah satu warga Dusun Kepuh.

Sumber air yang mereka namai sumur Pandan Wangi itu, saat ini debit airnya sudah mulai mengecil. Hampir 24 jam warga secara bergantian menimba air dari sumur sedalam 3 meter itu. Tak hanya pagi dan sore, malam hari pun warga beramai-ramai mengambil air. "Kalau malam bisa sampai jam 9, kalau pagi sebelum subuh aja sudah ada yang kesini, jelasnya lagi.

Beberapa kali, Badan Penanggungan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan mengirimkan bantuan droping air bersih ke wilayah tersebut. Namun tidak semua warga mendapatkan jatah tersebut, ini disebabkan banyaknya warga yang mengantri untuk mendapatkan air. " Beberapa kali ada bantuan, tapi sudah lama mengantri tidak kebagihan air, soalnya banyak sekali yang antri, jadi sia-sia," Pungkasnya.


Hal serupa juga dirasakan Mispari, jika tidak kebagian air disumber tersebut, ia terpaksa membeli air kaliling, namun itu tidak bertahan lama, karena ia harus mengeluarkan uang Rp 70 ribu hingga 100 ribu rupiah. "Kalau sumber habis, biasanya beli 1 tangki 70 ribu, kalau pas punya uang,"  Kata Mispari. (not)

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi