Sumarni mengungkapkan longsor di km 55 tersebut terjadi sekitar pukul 09.00. Saat itu dirinya tengah berada memasak didapur rumahnya. Betapa kagetnya ketika dirinya mendengar suara gemuruh disusul benturan keras. Saking kerasnya membuat perempuan paruh baya tersebut kawatir sumber suara berasal dari kendaraan yang jatuh kejurang. ‘’Keras sekali suaranya, saya langsung keluar rumah takut kenapa-kenapa ternyata longsor besar dijalan,’’ terangnya
Menurutnya, kawasan tersebut memang acap terjadi longsor. Beberapa bongkahan kecil guntur usai hujan deras. Namun, kali ini material dinilainya cukup banyak. Bahkan mampu menutup seluruh badan jalan. Hingga membuat kemacetan lebih dari dua jam. Pun ratusan kendaraan mengantre sebelum petugas berhasil membuka satu jalur. ‘’Batunya besar-besar, gak kuat kalau dibersihkan semua baru pakai cangkul,’’ katanya
Sementara itu, Haryono kepala desa setempat mengamini hujan deras semalam suntuk mengguyur desanya Rabu lalu. Bahkan malam sebelumnya longsor sempat terjadi tak jauh dari km 55. Meski material tergolong banyak namun, gunturan kala itu tak sampai menutup arus kendaraan. Justru longsor kali kedua itu membuatnya kaget lantaran cuaca kala itu tengah terik-teriknya. ‘’Biasanya disini jalurnya ramai, pas kejadian beruntung gak ada korban,’’ terang Haryono
Dia menambahkan sebelum akses berhasil dinormalisasi menggunakan alat berat. Warga dan sebagian penggendara jalan bahu membahu membersihkan material longsor. Minimal akses antar kabupaten itu mampu dilalui satu jalur. Meskipun banyaknya material batu berukuran raksasa yang ikut terseret membuat proses pembersihan berjalan lambat. ‘’Baru setelah panggil bego dua jalur bisa dilewati, semoga ada penanganan lanjutan karena kami kawathir ada longsor susulan,’’ imbuhnnya.