Selasa, 30 Maret 2021
Senin, 23 September 2019
Waspadai Penyakit Ini Saat Musim Kemarau
Rabu, 28 Agustus 2019
Siap-siap, Operasi Patuh Semeru 2019 Akan Dimulai Hari Ini
Minibus Tabrak Toko Kelontong dan Pengendara Motor
Kecelakaan terjadi di jalan Pacitan Solo, Tepatnya di Dusun Krajan, Desa Ngadirejan, Kecamatan Pringkuku Pacitan. Rabu (28/8/2019) Minibus isuzu Panther Nopol L 1632 FU yang dikemudikan Rahmad Ladiyanto, warga Mojogedang, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Berusaha menghindar kendaraan roda dua yamaha jupiter yang dikemudian Kurnia Saputra, 13 tahun pelajar asal Dusun Seso Pringkuku.
Mobil yang sudah melaju dengan kecepatan tinggi itu, menyenggol motor, sepontan sang sopir membelokkan mobilnya kearah kanan, sehingga menabrak toko kelontong milik Adi Fathoni. Akibatnya bangunan kios dan pagar besi ambruk, sementara barang dagangannya yang semula tertata rapi didalam toko, porak poranda. "Saat ini kami belum mengetahui apa saja yang rusak, yang jelas, bangunan dan dagangan rusak, namun belum kami hitung jumlahnya," Kata Adi Fathoni, pemilik toko.
Adi yang saat kejadian berada di dalam toko tidak mengetahui pasti kronologi kejadian kecelakaan tersebut, hanya mendengar suara benturan keras, kemudian ai lari keluar toko, "suara benturannya cukup keras, kemudian saya lari keluar, mungkin mobil dalam kecepatan tinggi, dan tidak mengerem," Jelasnya lagi.
Warga sekitar dibantu anggota Polisi kemudian mengangkat minibus yang masuk kedalam toko. Dan juga menyelamatkan barang dagangan dari retuntuhan bangunan. Sementara kedua pengendara mengalami luka ringan dan dirawat di Puskesmas Pringkuku. "Kedua pengendara serta satu penumpang mengalami luka ringan, dan dirawat di puskesmas, sedangkan dua kendaraan kami amankan dahulu," Kata Brigadir Nurhadi, Banit Laka Polres Pacitan.
Akibat kecalakan tersebut, kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Minibus mengalami kerusakan cukup parah dibagian depan sementara kendaraan roda dua mengalami kerusakan ringan.
Banyaknya warga yang melihat kejadian itu membuat arus lalulintas dari dua arah sempat terhambat. (Not)
Senin, 22 Juli 2019
Kesulitan Air Bersih, Warga Rela Antri Disumber Air Hingga Malam
NGADIROJO - lensapacitan.com, Kemarau panjang membuat warga di Kecamatan Ngadirojo mengalami krisis air bersih. Warga di Desa bodag ini misalnya, untuk mendapatkan air, mereka harus mengantri hingga berjam-jam disalah satu seumber air yang tersisa. "Warga harus bergantian mengambil air, bisa sampai berjam-jam kalau airnya tinggal sedikit," Ungkap Retno Tri Setyowati salah satu warga Dusun Kepuh.
Sumber air yang mereka namai sumur Pandan Wangi itu, saat ini debit airnya sudah mulai mengecil. Hampir 24 jam warga secara bergantian menimba air dari sumur sedalam 3 meter itu. Tak hanya pagi dan sore, malam hari pun warga beramai-ramai mengambil air. "Kalau malam bisa sampai jam 9, kalau pagi sebelum subuh aja sudah ada yang kesini, jelasnya lagi.
Beberapa kali, Badan Penanggungan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan mengirimkan bantuan droping air bersih ke wilayah tersebut. Namun tidak semua warga mendapatkan jatah tersebut, ini disebabkan banyaknya warga yang mengantri untuk mendapatkan air. " Beberapa kali ada bantuan, tapi sudah lama mengantri tidak kebagihan air, soalnya banyak sekali yang antri, jadi sia-sia," Pungkasnya.
Hal serupa juga dirasakan Mispari, jika tidak kebagian air disumber tersebut, ia terpaksa membeli air kaliling, namun itu tidak bertahan lama, karena ia harus mengeluarkan uang Rp 70 ribu hingga 100 ribu rupiah. "Kalau sumber habis, biasanya beli 1 tangki 70 ribu, kalau pas punya uang," Kata Mispari. (not)
Rabu, 10 Juli 2019
Harga Cengkeh Merosot, Petani Merana
SUDIMORO – lensapacitan.com, Petani cengkeh di Pacitan dibuat pusing, Selain ancaman pohon mati terserang virus, harga bunga dari pohon yang tersisa justru anjlok dipasaran. Tak tanggung-tanggung, dari bunga kering yang biasa dijual Rp. 90 hingga 100 ribu perkilo, kini hanya dihargai Rp. 60 ribu perkilonya. Padahal jumlah panen para petani menyusut usai sebagian besar batang cengkeh mati. ‘’Menangis, miris pokoknya para petani cengkeh saat ini,’’ ujar Sumono, petani cengkeh di Sudimoro,
Menurutnya, penurunan produktifitas para petani merosot tajam. Berkisar 70 persen dari panen raya tahun-tahun sebelumnya. Di waktu normal misalnya, satu batang cengkeh mampu memproduksi 50 hingga 60 kg bunga basah. Pun, usai dikeringkan bakal menyusut hingga 20 kg saja. Sementara, saat ini para petani hanya mampu memproduksi 20 kg tiap batang. Pun, saat dikeringkan hanya berkisar 4 hingga 6 kg cengkeh kering. ‘
Faktor musim, dituding jadi biang keladi merosotnya panen. Pasalnya dimusim kemarau kali ini sebagian besar sumur warga mengering. Diperparah dengan matinya batang cengkeh terserang virus. Alhasil, sebagian petani yang frustasi memilih menebang pohon untuk dijual kayunya. Lumprah mengingat anjloknya pendapatan jika dibandingkan masa jaya cengkeh beberapa tahun silam. ‘’kalau dulu hasil cengkeh bisa untuk sekolahkan anak hingga kuliah, mungkin sekarang sulit,’’ ungkap Sumono.
Ketanggung, Karangmulyo, Klepu dan sebagian Sudimoro jadi sebagian besar produksi cengkeh di kecamatan Sudimoro. Padahal dari wilayah tersebut belasan ton diproduksi tiap tahun. Namun, Sumono ragu dalam beberapa tahun kedepan tanaman cengkeh masih bertahan di wilayahnya. Mengingat, banyaknya tanaman yang mati tiap tahun. ‘’Mungkin kalau yang hanya mengandalkan cengkeh sebagai penghasilan utama akan kesusahan,’’ pungkasnya. (Not)
Senin, 29 April 2019
Percasi Pacitan Targetkan 3 Emas di Kejurprov Tulungagung
PACITAN - lensapacitan.com- Pengurus Cabang Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Pacitan tidak mengendurkan porsi latihan. Mulai tiga bulan terakhir, menu latihan berat selalu diberikan. Delapan jam latihan selalu dilahab hampir setiap harinya. Itupun tidak hanya hari libur. ‘’ Kalau hari biasa mulai pukul 17.00 sampai 21.00. Kalau libur mulai pagi sekitar pukul 08.00 sampai 17.00, ’’ beber pelatih Pengcab Percasi Pacitan, Resi Aji ditemui dikantornya.
Menurutnya latihan berat tersebut salah satunya dipersiapan untuk keikutsertaan atlet Pengcab Percasi pacitan dalam ajang Kerjurprov yang digelar di Tulungagung pada 11 hingga 16 Juni mendatang. Aji mengaku jika dia memiliki target tinggi. Berupa tiga medali emas, dua perak dan satu perunggu. Untuk meraih target tersebut, sebanyak 20 atlet disiapkan. ‘’ Semua bermain untuk seluruh kelompok umur, ’’ tambahnya.
Target tersebut dinilainya wajar. Lantaran didasari dari hasil pengawasan latihan atlet-atletnya. Tiga atlet yang digadang-gadang bakal meraih tigas emas tersebut diantaranya Radiata Hasan Aryasetya untuk kelompok umur 8 tahun putra, Bayu Surya Mahendra dikelompok umur 11 tahun putra dan Alza Nasuha di kelompok umur 15 tahun putri. Meski begitu, Aji mengaku jika atlet lainnya pun tetap memiliki peluang yang sama. ‘’ Bukan artinya selain ketiga atlet tadi tidak saya andalkan, ’’ tegasnya.
Menurutnya sejumlah atlet bahkan diprediksinya bakal menjadi kuda hitam dalam Kejurprov Tulungagung. Diantaranya Ari Rida Surya di kelompok umur 9 tahun putra dan anaknya sendiri, Febrianti Mustikasari di kelompok umur 10 tahun. Keduanya dianggapnya memiliki kualitas untuk mampu menambah perolahan medali meski baru kali pertama mengikuti kompetisi. ‘’ Biasanya masalah yang dihadapi cuma demam panggung, ’’ tambahnya.
Dia pun menyebut jika kompetitornya hanya pecatur asal Surabaya dan Sidoarjo. Kedua daerah tersebut disebutnya juga memiliki sejumlah atlet berkualitas. Bermodalkan latihan intens yang diberikan, Aji pun mengaku jika pihaknya masih pede. Terlebih lokasi pelatihannya kerap menjadi study banding sejumlah daerah lainnya. ‘’ Karena Pacitan dianggap memiliki banyak atlet catur berprestasi, ’’ jelasnya. (not)
Minggu, 28 April 2019
Bermain Air, Pelajar Asal Ponorogo Tewas Tenggelam di Pantai Soge
NGADIROJO - lensapacitan.com, Nasib nahas di alami Syahrul Yulian (14). Pelajar asal Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo itu meninggal dunia akibat tenggelam di muara sungai, pantai Soge di desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Minggu (28/4/2019) sekitar pukul 12.30 lalu.
Kejadian tersebut berawal saat korban bersama kedua rekannya Adit Akbar dan Ismanur Halil bermain dipantai soge. Setelah puas bermain ketiganya hendak mencuci pakaian yang mereka kenakan di muara sungai, Korban kemudian melompat menjeburkan diri kedalam air. Sayangnya korban tak menyadari dalamnya muara yang diselami. Pun karena tidak bisa berenang korban langsung tenggelam.
Melihat temannya tenggelam, Adit dan Halil, berteriak minta tolong, warga setempat bergegas datang melakukan pencarian di tempat kejadian. Beruntung Slamet, warga setempat berhasil menemukan Syahrul setelah menyelam di muara sedalam 5 meter itu. Meski saat diangakat korban dalam kondisi tewas terlalu banyak menenggak air.
Anggota kepolisian, Bersama Sar Linmas Satpolpp pacitan yang mendatangi lokasi kemudian membawa korban ke Puskesmas Ngadirojo untuk dilakukan Visum. (not)
Kamis, 21 Maret 2019
Longsor, Jalur Wisata Pantai Klayar Tersendat
Haryono mengungkapkan, empat batu besar berdiameter lebih dari tiga meter guntur dari tebing setinggi 10 meter di jalur wisata tersebut. Imbasnya, separo lebih badan jalan tak dapat digunakan. Pengendara baik roda dua maupun empat harus menggunakan bahu jalan yang tersisa jika nekat melintas. Ini termasuk jalur penting, karena digunakan para wisatawan pergi ke klayar dan maron dari pantai watukarung, paparnya.
Darminto, petugas lapangan dinas PUPR Pacitan saat ditemui dilokasi menuturkan, setidaknya butuh satu minggu penuh untuk membersihkan material longsor tersebut. Besarnya batu, jadi alasan lamanya proses pembersihan. Berbeda dengan tanah longsor umumnya, petugas mesti memecah material jadi kecil sebelum diangkut untuk dibuang. Kalau diangkut langsung jelas tidak kuat, karena batunya besar, ungkapnya
Dirinya menambahkan, proses pembersihan yang baru dimulai kemarin (21/3) itu juga dilakukan hati-hati. Pasalnya, diatas tebing nampak beberapa material batu rawan runtuh. Disamping, kondisi tanah yang gembur mudah terjadi longsor susulan. Sementara, satu alat berat yang digunakan mesti bekerja diarea jalur menurun. kita kerahkan satu breaker, untuk menghancurkan batu sebelum diangkut, jelasnya (dw)
Senin, 18 Maret 2019
Diparkir Di Pasar, Motor Scoopy Raib Digondol Maling
PACITAN –
lensapacitan.com, Naas dialami Astin, salah satu pedagang pakaian di kios Pasar
Munulyo Pacitan. Sepeda motor Honda Scoopy No Pol AE 5395 xz warna hitam
kombinasi putih yang diparkir di depan kios Pasar Minulyo, Baleharjo, Pacitan,
raib digondol pencuri, Senin (18/03/2018).
Pencurian itu
diketahui Astin, Sekitar pukul 11.00 WIB, saat dirinya hendak menjemput anaknya
di sekolah, Saat di lokasi parkir, dirinya kaget tidak mendapati motornya,
kemudian ia mencari di komplek pasar namun tidak ketemu. “ saya kaget setelah
motor saya tidak ada dan saya keliling pasar mencari motor, tapi tidak ketemu”
Ujar Astin.
Melihat kejadian itu,
dirinya langsung melaporkan pencurian tersebut ke Satreskrim Polres Pacitan. Sebelumnya,
sekitar sebulan yang lalu, dompet beserta kunci motor, surat dan sejumlah uang
juga raib digondol pencuri di dalam kios pakaian miliknya. Astin curiga pencuri
motor tersebut adalah orang yang sama. “Saya curiga yang mencuri motor saya
adalah orang yang telah mencuri tas saya dulu, karena dia memiliki kuncinya”
pungkasnya.
Astin tidak menyangka
akan kehilangan sepeda motor yang sehari-hari dipakai untuk berangkat dan
pulang ke pasar. Apalagi, jauh sebelumnya dia sudah sering memarkirkan
kendaraan roda dua miliknya di lokasi yang sama. (tn)
Minggu, 17 Maret 2019
Longsor Batu, 5 Kepala Keluarga Mengungsi
PACITAN - lensapacitan.com, Akibat diguyur hujan selama berhari-hari, Bukit tinggi di Dusun Klisat, Desa Tambakrejo, Pacitan Longsor pada Minggu Malam (17/3). Batu besar dari Bukit yang tak jauh dari pemukiman warga longsor, Kejadian tersebut membuat warga setempat panik dan terpaksa meninggalkan rumah mereka. "habis isya, ada suara gemuruh seperti bom, kemudian saya bersama keluarga mengungsi kerumah anak saya" Kata Bibit warga setempat.
Kejadian bermula saat wilayah setempat diguyur hujan, Batu dari bukit longsor, beruntung pecahan batu tersebut terhalang pohon dan bambu, sehingga terhenti dan tidak sampai menerjang pemukiman warga, Sedikitnya ada 5 Kepala Kelurga terpaksa mengungsi akibat kejadian itu" Ada sekitar 15 orang yang mengungsi ketempat yang lebih aman" Imbuhnya.Dua anggota Koramil Pacitan langsung terjun ke lokasi, untuk memastikan kondisi aman. Sementara warga setempat sudah kembali beraktifitas, namun saat hujan deras, warga kembali mengungsi. (Tn)
Senin, 04 Maret 2019
Tanaman Padi Ambruk dan diserang Wereng, Petani Panen Dini
PACITAN - lensapacitan.com, Hektaran tanaman padi di Dusun Krajan, Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan yang belum memasuki masa panen ambruk, karena diguyur hujan disertai angin. Akibatnya, tanaman padi yang masih hijau tersebut ambruk dan terendam air "Ini padinya masih hijau, harusnya dua minggu lagi baru bisa dipanen" kata Sutrisno salah satu petani.
Jika dibiarkan tanaman padi tersebut akan rusak, rontok terendam air dan dimakan tikus. Untuk meminimalisir kerugian petani kemudian memanen lebih awal padi mereka.
Hasil tanaman padinya pun pada panen kali ini megalami penurunan, sebelumnya, satu petak tanaman padi miliknya bisa menghasilkan 12 sak gabah, dan pada panen kali ini diperkirakan hanyamendapatkan sekitar 8 sak saja "hasil panennya berkurang banyak, kali ini karena belum memasuki masa panen" ungkapnya.
hal serupa disampaikan bonari petani lainnya, tak hanya ambruk, petani juga dipusingkan dengan seragan hama wereng, yang membuat tanaman padi miliknya mengering dan mati.
Di desa Purworejo sendiri, sedikitnya ada 3 hektar tanaman padi yang ambruk dan diserang hama wereng, padahal semua umur padi diwilayah tersebut hampir sama, namun dalam beperapa hari kedepan padi tersebut akan dipanen" mugkin besuk pdi sebelah ini jga akan dipanen, soalnya sudah ambruk" pungkasnya. (tr)






