Klik Pacitan: Pertanian
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Maret 2021

Tanaman Porang, Umbi-Umbian Dengan Potensi Ekspor Yang Menjanjikan


TEGALOMBO - Porang kini marak dan sedang booming di budidayakan di Pacitan. dengan memanfaatkan lahan kritis yang tak produktif , budidaya tanaman ini relatif mudah di kembangkan dan cocok di segala cuaca dan musim. Bahkan komoditas tanaman ini kini telah menembus pangsa  pasar eksport sebagai bahan baku pembuatan mie instan , lem dan gel.

Seperti yang dilakukan sejumlah petani porang di Desa Kebondalem Kecamatan Tegalombo Pacitan ini. Dengan memanfaatkan lahan kritis dan tak produktif , budidaya porang dapat dikembangkan. tanaman porang yang termasuk komoditas jenis baru yang dikembangkan di Pacitan ini, langsung banyak diminati sejumlah petani terutama yang berdiam di kawasan perbukitan dengan lahan setengah kering. Bahkan budidaya tanaman ini sangat mudah dikembangkan di segala cuaca dan musim.

Budidaya tanaman porang ini, dilakukan petani diawali dengan pembibitan dengan tiga cara baik dengan bubil kata, umbi kecil dan bunga. namun kini para petani banyak menggunakan bubil kata sebagai bibit dengan resiko kegagalan yang relatif kecil dan biaya yang sangat minim. setelah tahap pembibitan di kantong plastik, barulah bibit porang ditanam sejak mulai tanam hingga panen,

Tanaman porang ini baru bisa dipanen, jika pohon dan daun tanaman ini telah menguning atau mati. untuk buah yang ada diatas daun dan berbentuk kecil inilah yang dinamakan bubil katayang bisa untuk bibit. Namun yang dipanen dan diolah untuk dieksport itu umbinya yang berada di pangkal batang yang didalam tanah. Panen porang dari tingkat petani dijual ke pengepul seharga sepuluh ribu per kilogramnya.

Di tingkat pengepul ,  umbi-umbi porang ini, kemudian di rajang tipis- tipis menggunakan mesin perajang untuk kemudian di jemurhingga kering. Setelah berupa lempengan kering atau chiep , pihak pengepul mengirimnya ke pabrik pengolahan di madiun dengan harga tujuh puluh ribu per kilonya. Dari pabrik,  selanjutnya di packing untuk di kirim sebagai komoditas eksport ke Jepang , Cina Dan Eropa

Senin, 27 April 2020

Angin Kencang, 30 Hektar Padi di Kecamatan Arjosari Rata Dengan Tanah


PACITAN – lensapacitan.com, Hujan disertai angin kencang beberapa hari terakhir mengakibatkan 30 hektar tanaman padi milik sejumlah petani di Desa Gayuhan, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan ambruk rata dengan tanah. Tak ayal robohnya padi yang belum memasuki masa panen tersebut, terpaksa harus di panen lebih cepat.

‘’robohnya sekitar seminggu yang lalu, dan ini kalau ndak cepat di panen bisa membusuk, tentu kami makin terancam rugi besar’’ jelas Nuryanto, salah seorang petani, desa setempat, kemarin (27/4/2020).

Padi tersebut rencananya akan dipanen sekitar 2 minggu lagi, namun sudah terlebih dulu diterjang hujan disertai angin kencang, hal itu membuat tanaman padi miliknya rusak terendam air maupun  dimakan tikus.

‘’Bila tanaman bagus, sekali panen minimal dapat 100 karung, kalau sekarang paling berapa’’ imbuhnya.

Beruntung hujan deras tidak terus menerus, sehingga ia dan petani lainya masih ada kesempatan memanen secara dini. Sebab selain membusuk kalau rutin terkena air hujan padi bisa terendam dan menjadi kecambah.

’’lahan saya ini sekitar 1 hektar luasnya, semua rata, sudah seperti lapangan’’ ujarnya.
Tak hanya itu, jauh sebelum diterjang angin, ketika memasuki masa berbuah, padi-padi tersebut telah lebih dulu diserang hama wereng coklat.

‘’bertubi-tubi, ujian petani. Di semprot obat bolak-balik juga tidak mengatasi, sampai sekarang itu juga sebenarnya belum hilang,"pungkasnya.(not)

Rabu, 10 Juli 2019

Harga Cengkeh Merosot, Petani Merana


SUDIMORO – lensapacitan.com, Petani cengkeh di Pacitan dibuat pusing, Selain ancaman pohon mati terserang virus, harga bunga dari pohon yang tersisa justru anjlok dipasaran. Tak tanggung-tanggung, dari bunga kering yang biasa dijual Rp. 90 hingga 100 ribu perkilo, kini hanya dihargai Rp. 60 ribu perkilonya. Padahal jumlah panen para petani menyusut usai sebagian besar batang cengkeh mati. ‘’Menangis, miris pokoknya para petani cengkeh saat ini,’’ ujar Sumono, petani cengkeh di Sudimoro,

Menurutnya, penurunan produktifitas para petani merosot tajam. Berkisar 70 persen dari panen raya tahun-tahun sebelumnya. Di waktu normal misalnya, satu batang cengkeh mampu memproduksi 50 hingga 60 kg bunga basah. Pun, usai dikeringkan bakal menyusut hingga 20 kg saja. Sementara, saat ini para petani hanya mampu memproduksi 20 kg tiap batang. Pun, saat dikeringkan hanya berkisar 4 hingga 6 kg cengkeh kering. ‘

Faktor musim, dituding jadi biang keladi merosotnya panen. Pasalnya dimusim kemarau kali ini sebagian besar sumur warga mengering. Diperparah dengan matinya batang cengkeh terserang virus. Alhasil, sebagian petani yang frustasi memilih menebang pohon untuk dijual kayunya. Lumprah mengingat anjloknya pendapatan jika dibandingkan masa jaya cengkeh beberapa tahun silam. ‘’kalau dulu hasil cengkeh bisa untuk sekolahkan anak hingga kuliah, mungkin sekarang sulit,’’ ungkap Sumono.




Ketanggung, Karangmulyo, Klepu dan sebagian Sudimoro jadi sebagian besar produksi cengkeh di kecamatan Sudimoro. Padahal dari wilayah tersebut belasan ton diproduksi tiap tahun. Namun, Sumono ragu dalam beberapa tahun kedepan tanaman cengkeh masih bertahan di wilayahnya. Mengingat, banyaknya tanaman yang mati tiap tahun. ‘’Mungkin kalau yang hanya mengandalkan cengkeh sebagai penghasilan utama akan kesusahan,’’ pungkasnya. (Not)

Senin, 08 Juli 2019

Terdampak Kekeringan, Puluhan Hektar Padi Gagal Panen


ARJOSARI - lensapacitan.com, Musim kemarau yang melanda Kabupaten Pacitan, Tak hanya membuat warga kesulitan air bersih, Namun kekeringan juga berimbas pada sektor pertanian. sedikitnya 30 hektar tanaman padi mengering dan mati. Sawah Milik petani di Desa Pagutan, Kecamatan Arjosari misalnya, Hektaran tanaman padi itu kering kerontang, karena tidak ada pasokan air.

Sejumlah petani pun memilih membabat tanaman padinya sebagai pakan ternak Sapi, "ada padinya sedikit dibawa pulang, bisa untuk pakan Ayam" ujar Sukemi salah satu petani desa Pagutan, Saat ditemui disawah.

Meski area sawah dekat dengan sumur, namun tidak memungkinkan untuk digunakan mengairi sawahnya, karena sumber airnya semakin mengecil. Selain kemarau gagal panen juga akibat diserang hama wereng.

Pada musim panen kali ini, hasil panen petani pun turun drastis, yang biasanya satu petak sawah bisa mendapatkan 15 karung, kali ini hanya mendapat 3 karung saja. "Panen kemarin masih dapat 15, kali ini paling cuma dapat 3 karung saja," lanjutnya.

Merosotnya hasil panen ini dikeluhkan petani, Karena biaya masa tanam padi tak sebanding dengan hasil yang ia dapatkan, "ya rugi, bajaknya pakek traktor, pupuk dua kali, belum tenaganya, untungnya cuma jeraminya bisa buat pakan ternak, itu aja," pungkasnya. (Not)

Senin, 29 April 2019

Menggunakan Kaleng Gugug, Begini Cara Petani Usir Babi Hutan

Menggunakan Kaleng Gugug, Begini Cara Petani Usir Babi Hutan


PACITAN - lensapacitan.com, Suara anjing nyaring terdengar di pematang sawah. Tak hanya satu, beberapa suara saling bersautan silih berganti. Saat didekati, tak nampak satupun hewan penjaga tersebut yang terlihat. Yang ada hanya beberapa petani sembari membawa kaleng bekas. Ternyata suara tersebut adalah kaleng pengusir Babi hutan yang menyerupai suara anjing. ‘’Suaranya (anjing, red) dari keleng ini, memang dibuat semirip mungkin dengan anjing. Namanya kaleng guguk,’’ ujar Katibi salah seorang
petani.





Bukan kurang kerjaan atau tanpa tujuan. Gongongan kaleng guguk milik warga dusun Bedayu, Bolosingo, Pacitan itu jadi andalan Katibi untuk menyambung hidup. Tampak sepele, namun babi hutan atau warga biasa menyebutnya celeng kerap memangsa dan merusak tanaman padi milik Katibi. Hingga, untuk mengusir hama tersebut, dirinya harus menggunakan gonggongan kaleng guguk untuk menghalau para babi. ‘’Terbukti ampuh, karena kalau dengar suara anjing pasti celeng-celeng takut dan lari,’’ terangnya





Untuk membuat kaleng guguk tidaklah sulit Katibi hanya perlu kaleng bekas sebagai media pengeras suara. Semakin besar kaleng jelas suara yang dihasilkan kian nyaring. Biasanya bapak dua anak itu memakai kaleng bekas susu atau tiner untuk selanjutnya dilubangi bagian pantatnya menggunakan paku. Lanjutnya, sobekan kain tak terpakai sepanjang satu meter dimasukan dalam lubang dan diikat satu ujungnya agar menyangkut. ‘’Setelah itu tinggal dibasahi dengan air, dan kainnya di plirit (tarik,red), langsung keluar suara anjing,’’ jelasnya sembari menyarankan tangan lainnya memegang mulut kaleng agar suara tambah nyaring terdengar.





Cara tersebut dipelajari Katibi dari orang tuanya dulu. Kerap digunakan untuk bermain saat anak-anak, kaleng dulunya menggunakan gelas plastik. Namun suara yang tak begitu nyaring dan tak mirip anjing.Hingga warga berinofasi dengan mengganti menggunakan kaleng. Sukses besar, saat babi hutan dan
kera mendengar suara kaleng guguk miliknya, hewan-hewan tersebut pasti lari ketakutan. ‘’berlatih dulu agar suara yang dihasilkan mirip guguk, termasuk cara nariknya,’’ papar suami Suryati tersebut





Hampir 24 jam, Katibi berada di gubuknya sawahnya. Berangkat sore pulang dini hari, ini dilakukannya setiap hari bersama warga lainnya. Pasalnya, di seminggu jelang panen ini. Jika tak dijaga babi hutan dan kera kerap datang dan merusak lahan sawahnya. Jika dibiarkan dipastikan padi yang ditanam tak akan dipanen. ‘’Biasanya disini jaganya gantian, nanti dua jam jaga dua jam tidur. karena gerombolan babi banyak kadang sore, tengah malam atau pagi buta juga datang,’’ pungkas Katibi. (yon)


Senin, 04 Maret 2019

Tanaman Padi Ambruk dan diserang Wereng, Petani Panen Dini

Tanaman Padi Ambruk dan diserang Wereng, Petani Panen Dini


PACITAN - lensapacitan.com, Hektaran tanaman padi di Dusun Krajan, Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan yang belum memasuki masa panen ambruk, karena diguyur hujan disertai angin. Akibatnya, tanaman padi yang masih hijau tersebut ambruk dan terendam air "Ini padinya masih hijau, harusnya dua minggu lagi baru bisa dipanen" kata Sutrisno salah satu petani.





Jika dibiarkan tanaman padi tersebut akan rusak, rontok terendam air dan dimakan tikus. Untuk meminimalisir kerugian petani kemudian memanen lebih awal padi mereka.





Hasil tanaman padinya pun pada panen kali ini megalami penurunan, sebelumnya, satu petak tanaman padi miliknya bisa menghasilkan 12 sak gabah, dan pada panen kali ini diperkirakan hanyamendapatkan sekitar 8 sak saja "hasil panennya berkurang banyak, kali ini karena belum memasuki masa panen" ungkapnya.





hal serupa disampaikan bonari petani lainnya, tak hanya ambruk, petani juga dipusingkan dengan seragan hama wereng, yang membuat tanaman padi miliknya mengering dan mati.





Di desa Purworejo sendiri, sedikitnya ada 3 hektar tanaman padi yang ambruk dan diserang hama wereng, padahal semua umur padi diwilayah tersebut hampir sama, namun dalam beperapa hari kedepan padi tersebut akan dipanen" mugkin besuk pdi sebelah ini jga akan dipanen, soalnya sudah ambruk" pungkasnya. (tr)


Minggu, 03 Maret 2019

Hama Belalang, Jadi berkah bagi Pasutri di Pacitan

Hama Belalang, Jadi berkah bagi Pasutri di Pacitan


PRINGKUKU – lensapacitan.com, Perlahan-lahan langkah sunyi
Didik Budi Effedi menyusuri setiap kebun ketela di desa Watukarung. Sembari
menenteng jaring ikan ditangannya, bola matanya tak henti mengamati dedaunan
sekitar. Tanpa aba-aba, jaring yang semula tertata rapi dilemparnya menyebar
menutupi ribunnya dedaunan. Dari belakang istrinya berlari mengikuti sang suami
mendekat dan masuk kedalam jaring.





Akhir bulan Februari hingga Maret, menjadi kebiasaan Didik
berburu belalang. Saban pagi, didampingi Ika Salina -istrinya,  keduanya menyusuri setiap rumbuk dedaunan
ketela di Watukarung. Bahkan warga Dusun Bulu, Kalak, Donorjo itu rela menempuh
jarak lebih dari 10 kilometer untuk berburu belalang. Hasil buruannya tersebut
bakal dikumpulkan dan jual pada pengepul malam harinya. ‘’Kalau pagi berangkat,
nanti siang balik, biasanya malam sudah ada yang datang kerumah untuk beli,’’
jelasnya





Dalam sehari 5 hingga 7 kilogram belalang dapat dikumpulkan.
Cukup mahal, para pengepul mematok harga 40 ribu rupiah perkilo belalang. Meski
untuk mendapatkan satu kilonya, Didik harus berburu hingga 1.5 jam. Pun jika
hoki dalam setengah jam saja, lebih dari setengah kilo belalang berhasil
didapat. ‘’Kalau masih sepi gampang nyarinya, tapi kalau banyak orang biasanya
belalang kabur jadi sulit,’’ terang Didik





Tak hanya disiang hari, Didik terkadang turut berburu dimalam hari. Pria 24 tahun itu menggunakan senter untuk memburu belalang. Saat malam, menangkap hewan kaki panjang tersebut mudah-mudah susah. Selain kudu jeli, dirinya hanya menggunakan tangan untuk menangkap belalang yang hinggap. Alhasil, jika tak terbiasa tangkapan tak sebanyak yang diharapkan. ‘’Paling banyak dua kilo, gak bisa pakai jaring kalau malam, cukup pakai tangan karena belalang pas tidur,’’ ungkap pria satu anak itu.





Selain dijual, beberapa belalang turut dijadikannya sebagai lauk. Biasanya bebelang tersebut dipreteli kaki dan sayapnya untuk dicuci dan digoreng. Tak perlu bumbu istimewa, setelah digoreng garing dengan tambahan bawang dan cabai, laut kaya protein siap disantap. ‘’Gak kalah kalau dibandingkan ayam,’’ pungkas Didik. (sr)


Ribuan Hama Belalang Serang Tanaman Palawija Milik Petani

Ribuan Hama Belalang Serang Tanaman Palawija Milik Petani


PRINGKUKU – lensapacitan.com, Para petani dusun Kenol,
Watukarung, Pringkuku dibuat resah serangan serangga. Bukan wereng yang banyak
menyebar saat ini, namun justru kerusakan berasal dari ribuan belalang yang
membludak. Bahkan, hampir seluruh dedaunan hijau berubah geripis jadi makanan. Adi
mengungkapkan sudah sebulan terakhir serangan belalang hijau tersebut terjadi
didesanya. Kebanyakan insektisida itu menyerang tanaman singkong dan kelapa.
Imbasnya, para petani khawatir daun yang habis bakal mengganggu perkembangan
singkong. Hingga membuat singkong tak dapat tumbuh besar. “kalau terus
disernag, ketala bisa gak tumbuh, dan rugi,’’ ungkapnya





Tak hanya sekali ini saja, hampir tiap tahun serangan
belalang terjadi di Watukarung. Namun tahun ini belalang dirasanya jauh lebih
banyak. Padahal, jumlah tersebut belum tersemasuk belalang yang bertelur.
Hingga, dirinya memperkirakan beberapa minggu kedepan jumlah serangan bakal
meningkat tajam. ‘’Saat ini banyak yang cari makan, sebentar lagi musim kawin
dan tambah banyak,’’ ujar petani ketela itu.





Petani tidak bisa berbuat banyak dengan adanya serangan hama
belalang tersebut. Pasalnya, tak ada pestisida untuk membasmi hama tersebut.
Sementara jika di lapisi jaring, harga beli tak sebanding dengan panen yang
didapat. Untuk mengurangi jumlah belalang, para warga setempat biasanya menangkap
para belalang untuk dijadikan kudapan. ‘’Kalau ngusir kadang kalau siang saya obyak-obyak nanti belalangnya lari, tapi
sebentar balik lagi,’’ ucapnya





Sementara itu, pantauan lensapacitan.com, hama belalang tak hanya menyerang tanaman ketela, tanaman palawija lainnya, seperti kacang panjang, dan jagung juga habis, tak hanya itu pohon kelapa dan sengon juga tinggal batangnya saja. (sg)


Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi