Klik Pacitan: Pendidikan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2021

Hari Pertama Tatap Muka, Aji Jadi Guru SD


PACITAN - lensapacitan.com, Sosok pria mengenakan kain batik itu nampak menjadi pusat perhatian. Berdiri menghadap papan putih, tangannya tak berhenti menulis beberapa kalimat sembari diucap keras-keras. Beberapa bocah mengenakan seragam merah putih pun nampak bergeming memperhatikan pengetahuan yang diberikan. Terlebih bukan sembarang guru, sang pengajar itu turut merangkap jabatan bupati Pacitan.

Di hari kedua pembelajaran tatap muka (PTM) (2/9/2021), Indrata Nur Bayuaji menyempatkan diri meninjau beberapa sekolah di Pacitan. Tak hanya sidak, dia menyempatkan diri memberikan materi protokol kesehan (prokes) pada siswa di SDN Sedeng 1 dan 2, kecamatan Pacitan. Antisipasi penularan hingga pentingnya vaksinasi. Maklum, meski kembali dimulai namun sekolah klasikal kali ini berjalan dimasa pandemi covid-19. 

‘’Kita pesan pada kepala sekolah dan guru, untuk mengedukasi anak-anak akan protokol kesehatan, agar bisa tau dan bisa mengingatkan,’’ ungkap Aji

Jadi tahap uji coba PTM masa pandemi, Aji berharap para pengajar tak membebankan siswa dengan materi pendidikan berlebih. Pun, sementar fokus akan penyampaian materi kesehatan. Serta membiasakan kembali bersekolah. Terlebih, 1.5 tahun belakangan, pembelajaran dilakukan via dalam jaringan (daring). 

‘’Tentunya Kita juga berusaha mengejar ketinggalan materi pelajaran yang selama ini lewat daring,’’ paparnya

Aji tak menampik, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang selama ini digelar tak sepenuhnya maksimal. Terbatasnya jaringan hingga topografi membuat pelaksanaan model pembelajaran sulit diterapkan. Alhasil, pas menurutnya PTM kembali dilakukan. Menjawab harapaman siswa akan rindunya kembali ke sekolah. Meskipun, dengan pembatasan kegiatan. 

‘’Setiap minggu kita akan evaluasi dan mudah-mudahan kita bisa kerjasama dari semua pihak hasilnya baik dan segera bisa semua berjalan normal,’’ pungkasnya

Senin, 30 Agustus 2021

Pemberlakuan Sekolah Tatap Muka Di Pacitan Mulai 1 September


PACITAN - lensapacitan.com, Tiga semester berjalan, belenggu pembelajaran dalam jaringan (daring) akhirnya berakhir. Mulai besok (1/9/2021), para siswa tingkat SD dan SMP bisa kembali merasakan duduk di bangku sekolah masing-masing. Usai Satgas Covid-19 setempat, sepakat memulai kembali uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) masa pandemi ini. 

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan Daryono mengungkapkan selama dua minggu kedepan, uji coba PTM terbatas bakal digelar di beberapa sekolah. Khususnya, SD dan SMP yang berada di perbatasan kabupaten dengan akses internet dan keterbatasan pembelajaran daring. Bila dipandang apik, pembelajaran bakal dilanjutkan membuka separo lembaga SD SMP yang ada di Pacitan.

 ‘’Kita evaluasi, setiap dua minggu kalau lancar kita lanjutkan ke skema berikutnya,’’ papar Daryono

Dia menambahkan, usai pembukaan capai 50 persen. Tahap lanjutan, seluruh sekolah, serempak memulai pembelajaran berbarengan. Meski mengenakan skema 50 persen siswa yang masuk, namun baik kota dan kabupaten bisa menjalankan tatap muka. Disusul, tahap empat membuka kembali pembelajaran tingkat PAUD dan TK.

"Anak-anak TK nunggu satu bulan dulu, sekitar tanggal empat oktober baru kita buka kalau tiga tahap sebelumnya lancar,’’ tegasnya (sgd) 

Kamis, 19 Agustus 2021

Minat Sekolah Menurun, Mahasiswa Jadi Relawan Mengajar di Pelosok Desa


 Pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung hingga menjelang akhir 2021 mengharuskan seluruh kegiatan dilaksanakan secara daring, termasuk pelaksanakan pendidikan di semua jenjang. Termasuk pada tingkatan taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sebagai anak yang terbilang aktif saat melakukan pembelajaran daring merupakan salah satu hal yang membuat sejumlah siswa bahkan orang tua merasa kesulitan.

Berangkat dari masalah tersebut juga, mahasiswa berinisiatif memberikan pendampingan belajar bagi siswa sekolah dasar, mereka sadar betul bahwa kegiatan yang mereka rintis bisa saja memicu kerumunan, untuk itu mereka menyiasati agar pelaksanaan pendampingan belajar dilakukan dalam kelompok kecil di wilayah-wilayah dusun. 

“Kami awalnya melakukan survey terlebih dahulu, diawali dari bertanya ke perangkat desa kira-kira permasalahan apa yang bisa kami bantu, nah dari sana beliau bilangnya masalah utama adalah pelaksanaan belajar daring dan penugasan yang berlebih, bukan lagi anak-anak yang mengerjakan melankan orang tua siswa. Dari sana saya dan teman-teman berinisiatif melakukan pengajaran kepada kelompok kecil siswa, ya tujuan utamanya biar tetap prokes. Diawalai dari Dusun Ketho, nanti bisa saja menjamah ke dusun-dusun lain.”, menurut Wannurizati, mahasiswa yang sekaligus bertanggung jawab pada pelaksanaan acara ini.

“Saya pribadi ini jujur, kalau disuruh mengajar itu ndak bisa mbak. Jadi waktu ada anak-anak KKN yang mau memebrikan pengajaran secara Cuma-Cuma saya sangat bersyukur.”, ujar Katwanto salah satu wali murid yang ditemui saat pelaksanaan pendampingan belajar.

Dari kegiatan pendampingan belajar ini, harapannya mahasiswa mampu memberi angin segar pada kejenuhan sistem pembelajaran yang terus diajari orang tua, dan juga sedikit kemudahan orang tua dimana mahasiswa memberikan pengajaran dengan Cuma-Cuma. 

Dan tentunya agar siswa dapat termotivasi belajar, karena mahasiswa melakukan pengajaran dengan metode santai dan tetap menarik, belajar sambil bermain.

Minggu, 28 Maret 2021

Ujian Akhir Semester Siswa SMP di Pacitan Dilakukan Secara Daring

Pelajar tingkat SMP sederajat nampaknya mesti sabar berharap tatap muka bakal segera digelar. Berbeda dengan kakak kelas mereka, Dinas Pendidikan (Dindik) setempat memastikan proses ujian akhir semester (UAS) Juni mendatang tetap daring, baik tingkat SD hingga SMP. Serupa dengan ujian tengah semester (UTS) yang tengah berlangsung.
  
Kepala Dindik Pacitan, Daryono mengungkapkan meski dilakukan secara daring namun pihaknya memastikan penilaian dilakukan fair. Saban guru memiliki metode masing-masing, mengetahui perkembangan siswanya. Baik, lewat ujian online, penugasan, wawancara hingga berkunjung ke rumah siswa. Memastikan perkembangan intelegensi, kognitif hingga kejiwaan peserta didik. Guru itu dituntut kreatif, juga mereka secara formal sudah terdidik bagaimana cara menilai anak, papar Daryono. 

Daryono menambahkan selain dituntut kreatif, hasil raport tersebut menjadi kewajiban para guru. Menyampaikan hasil proses belajar saban semester ke wali murid masing-masing. Meski memiliki kewenangan penuh menentukan nilai, namun hasil belajar tersebut tetap dipertanggung jawabkan guru masing-masing. Baik ke pengawas, pun kepala sekolah dan dinas pendidikan. Karena itu guru dituntut kreatif agar bisa memberikan penilaian yang sesuai, terangnya. 

Memang, lanjut Daryono dimasa pandemi covid-19 kali ini proses KBM serba terbatas. Pun, tak sedikit siswa yang mengeluh jenuh akan pembelajaran. Belum lagi masalah jaringan internet, ketersediaan gadget hingga siswa bolos pelajaran. 

Namun, mau tak mau kebijakan ini mesti ditempuh antisipasi adanya penularan covid-19. Minimal sebelum proses vaksinasi guru tuntas dan tatap muka di gelar Juli mendatang. Semoga pembelajaran bisa segera dibuka, karena kita sama-sama rindu, katanya

Senin, 06 Juli 2020

KKN Dimasa Pandemi,Mahasiswa UNS ini Sosialisasi Ke Rumah-rumah Warga


PACITAN – Di masa pandemi ini Universitas Sebelas Maret, atau yang biasa dikenal dengan sebutan UNS, tetap menyelenggarakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswanya. Dengan mengusung tema KKN UNS tanggap wabah COVID-19, UNS menerjunkan ribuan mahasiswanya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke untuk mengabdi di tempat tinggal masing-masing. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, KKN COVID-19 UNS dilakukan secara individu dan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Begitu pula dengan Nida Ari Hanifah, salah satu mahasiswa UNS yang melaksanakan KKN COVID-19 di RT 02 RW 03, Dusun Gunung Semut, Desa Kendal, Kecamatan Punung. Dengan mengambil tema Supporting Pemahaman Masyarakat terhadap COVID-19, Nida mengajak masyarakat di sekitarnya untuk ikut berperan aktif dalam pencegahan dan pemutusan rantai penyebaran virus corona.

“Jumlah pasien positif COVID-19 yang kian hari kian meningkat, membuat saya tertarik untuk mengambil tema Supporting Pemahaman Masyarakat terhadap COVID-19. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya sadar akan pentingnya pencegahan virus corona.” Ujar Nida, relawan KKN COVID-19.

Didampingi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sahirul Alim Tri Bawono, S.Kom, M.Eng, KKN COVID-19 ini dilaksanakan mulai tanggal 15 Mei  2020 hingga 30 Juni 2020. Koordinasi dan bimbingan DPL bersama tim KKN dilaksanakan secara daring melalui grup Whatsapp atau Google Meet.

Dalam pelaksanaannya, Nida menjalankan beberapa kegiatan, salah satunya adalah sharing informasi seputar COVID-19 via online. Informasi-informasi tersebut antara lain adalah perbedaan gejala corona dan flu biasa, perbedaan rapid test dan swab test, langkah-langkah cuci tangan dengan sabun dan handsanitizer, dan masih banyak lagi. Semuanya dikemas secara menarik dalam bentuk poster maupun video yang dibagikan melalui Grup Whatsapp RT maupun Instagram.

Selain itu, Nida juga memberikan sosialisasi mengenai cara membuat masker kain di rumah, cara membuat cairan disinfektan sendiri, dan cara menanam cabai. Sosialisasi dilaksanakan dengan dua cara, yaitu melalui media online serta pembagian brosur secara door-to-door. “Sosialisasi ini bertujuan untuk menambah pengetahuan masyarakat terkait dengan pencegahan COVID-19 di rumah, serta meningkatkan kreativitas masyarakat untuk tetap produktif meskipun harus menerapkan kebijakan stay at home.” tambahnya.

Kegiatan KKN COVID-19 UNS ini cukup membantu masyarakat dalam memahami dan melakukan pencegahan virus corona. Hal ini diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat setempat, yaitu Imam Sudjadi. “Sangat bermanfaat dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap virus corona. Harapannya, semoga kita semua tetap sehat dan pandemi ini segera berakhir. Aamiin”, pungkasnya. 


Penulis: Nida Ari Hanifah

Jumat, 03 Juli 2020

Mengintip Kegiatan KKN Covid 19, Mahasiswa UNS Terapkan Kampanye PHBS Pada Masyarakat

Pacitan, Juni 2020. Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tetap mengadakan Kuliah Kerja Nyata ( KKN) di tengah pandemi corona. Namun, pelaksanaan KKN berbeda dengan kegiatan sebelum-sebelumnya, metode pelaksanaan KKN di masa pandemi Covid-19 dilakukan dengan cara mahasiswa melaksanakan kegiatan di tempat tinggal masing-masing. Kegiatan KKN  ini dikenal dengan KKN UNS Era Covid-19. Salah satunya dilakukan oleh Chelsea Arantza, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret. Tema KKN Covid yang ia laksanakan adalah Supporting Pemahaman Masyarakat Terhadap Covid-19 di RT 05 RW 01 Dusun Pager Desa Arjowinangun Pacitan.

“Kegiatan KKN ini saya laksanakan di desa sendiri, mengingat situasi kondisi yang ada jadi tidak ada penerjunan langsung di lokasi KKN seperti biasanya. Untuk menunjang kegiatan KKN Covid, saya memilih tema Supporting Pemahaman Masyarakat Terhadap Covid-19 karena masih banyak saya temui masyarakat yang membutuhkan support dan bantuan untuk memahami adanya virus covid, untuk itu saya ingin membantu masyarakat dan bekerja sama untuk mencegah penyebaran virus covid-19 di lingkungan RT 05 RW 01 Dusun Pager.” Tutur Chelsea.

Pelaksanaan KKN Covid-19 ini dimulai tanggal 15 Mei sampai 30 Juni 2020. Dalam kegiatannya Chelsea menjalankan beberapa program kerja antara lain, kampanye rutin tentang pengetahuan seputar covid-19 seperti share cara pencegahan covid-19, infografis dan tips-tips menarik di Grup WA Paguyuban RT, Pemasangan Banner Kampung Siaga Covid-19, Pembagian masker dan sabun cuci tangan. Hal ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya membantu meningkatkan pemahaman dan pencegahan covid-19 oleh masyarakat guna menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat. Kegitan KKN Covid-19 ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yaitu Sahirul Alim Tri Bawono S.Kom.,M.Eng.


“Kampanye saya lakukan di Grup WA Paguyuban RT, saya juga membuat video edukasi cara mencuci tangan yang benar menurut WHO, tips menjaga imun tubuh dan masih banyak lagi, share info di WhatsAppGrup RT saya lakukan 3x dalam seminggu. Selain itu saya juga share di akun media sosial saya yang lain agar semuanya bisa teredukasi dengan maksimal”.lanjutnya.

Adanya kegiatan KKN UNS Covid ini dirasa sangat membantu masyarakat dalam melaksanakan penerapan pola hidup bersih dan sehat . “Sangat membantu sekali, saya selaku RT 05/RW 01 terbantu untuk menyuarakan pentingnya menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat kepada warga setempat,”tutur Ketua RT 05/RW 01 Dusun Pager Desa Arjowinangun Pacitan, Rudo Cahyono.

Hal senada diungkapkan oleh Saniyem, salah satu warga. “ Matursuwun atas atas bantuan masker dan sabun cuci tangan. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua, agar tetap sehat dan terhindar dari corona, Aamiin,” ujarnya.


Penulis: Chelsea Arantza



Sabtu, 16 November 2019

Remaja Harus Tahu, Apa Itu Stunting dan Efeknya? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya


PACITAN - lensapacitan.com, Kasus Bayi Stunting menjadi salah satu prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan. Hal itu diungkapkan dr.Eko Budiono, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dalam Seminar Remaja Berprestasi Bebas Anemia dan Pernikahan dini di Gedung Karya Darma Pacitan beberapa waktu lalu.

"Kegiatan ini untuk menumbuhkan kesadaran pelajar tentang bahaya anemia dan cara pencegahannya. Mengajak berperilaku sehat dan berpartisipasi mengingatkan teman di sekolah dan lingkungan," kata Eko.

Dalam Seminar yang diikuti perwakilan pelajar dari 24 Puskesmas sekabupaten Pacitan itu sebagian besar dihadiri oleh remaja putri. Karena remaja putri yang mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah berisiko melahirkan anak yang mengalami kekerdilan atau "stunting" dikarenakan defisit gizi.

Remaja perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi dibanding remaja laki-laki karena saat menstruasi, zat besi turut keluar bersama darah. Karena remaja perempuan lebih banyak butuh zat besi, hal inilah yang membuat remaja perempuan berisiko kekurangan zat besi, yang ujung-ujungnya jadi anemia.

Selain menstruasi, penyebab anemia pun bisa datang dari berbagai faktor. Misalnya rendahnya asupan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin C, terkena cacing tambang yang menyerap darah dalam usus, malaria, melakukan diet yang tidak tepat, suka melewatkan waktu makan, atau suka melakukan olahraga berat.

Lalu apa itu stunting? Apa saja faktor yang bisa menyebabkan seorang anak menderita stunting?:

1. Apa Itu Stunting?

Menurut deskripsi World Health Organization (WHO) stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak dari gizi buruk, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Seorang anak disebut menderita stunting jika tinggi badan mereka sesuai usia di bawah minus dua standar deviasi hingga minus tiga standar deviasi dari median Standar Pertumbuhan Anak yang ditetapkan WHO.

2. Penyebab Stunting

Berdasarkan kerangka kerja WHO ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan stunting pada anak. Beberapa di antaranya adalah:

- Nutrisi yang kurang saat kehamilan dan menyusui.

- Pengetahuan ibu yang kurang tentang gizi.

- Stimulasi dan kegiatan untuk anak yang tidak cukup.

- Sanitasi dan air bersih yang tidak mencukupi.

- Akses terhadap pelayanan kesehatan yang terbatas.

3. Gejala Stunting

Tidak semua anak dengan perawakan lebih pendek dari teman sebayanya mengalami stunting. Menurut Kemenkes, balita yang mengalami stunting bisa diketahui jika saat diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, hasil pengukurannya ini berada pada kisaran di bawah normal.

Selain perawakan tubuh anak yang lebih pendek dari teman-temannya, ada juga beberapa ciri lainnya yang menandakan gejala stunting yaitu:

- Pertumbuhan yang lambat.

- Pubertas terlambat.

- Ketika mencapai usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam.

- Pertumbuhan gigi terlambat.

- Kemampuan fokus saat belajar berkurang.

4. Dampak dan Konsekuensi


Stunting di awal kehidupan anak, mulai dari kehamilan hingga usia dua tahun, bisa mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap anak. WHO membagi dampak dan konsekuensi ini dalam dua bagian yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

Dampak jangka pendek yang bisa dialami anak antara lain perkembangan kognitif dan pengetahuan yang terhambat serta gangguan kognitif. Selain itu, orang tua juga harus bersiap menghadapi pengeluaran lebih untuk biaya kesehatan anak.

Senin, 07 Oktober 2019

Begini Pengakuan Dua Siswa Yang Lagi Viral Naik Eksavator

BANDAR - lensapacitan.com, Sebuah video yang memperlihatkan dua orang pelajar manaiki alat berat untuk menyebrang viral dimedia sosial. Meski berbahaya, namun kedua bocah itu tetap tersenyum saat naik diatas alat pengeruk tanah, hal itu dilakukan karena jembatan masih dalam tahap perbaikan.

Dalam video amatir yang diambil warga sekitar, memperlihatkan dua orang pelajar menaiki alat pengeruk tanah atau excavator sebagai media penyebrangan di Dusun Kali Wungu, Desa Kecamatan Bandar, Pacitan. dengan berani dua pelajar MTS Muhamadiyah Bandar seolah acuh dengan bahaya yang mengancam keselamatan mereka.

"Ya sebenarnya takut, tapi karena gak tau kalau ada jalan lain," kata Winta Kurniari, salah seorang pelajar yang terpaksa menyeberamg menggunakan Eksavator, Senin (7/10/2019).

Seorang siswa mengaku terpaksa menaiki alat berat karena tidak ada akses jalan lain. meski ada ia harus memutar arah sejauh 10 km dengan berjalan kaki. Setiap harinya, kedua siswa harus menyebrang melewati sungai untuk berangkat maupun pulang sekolah.

"Setiap hari kalau berangkat dan pulang sekolah ya lewat sini, dan kebetulan gak tau kalau jembatannya lagi dibangun, dan kalau harus memutar jaraknya jauh," lanjut Winta.

Setiap hari, mereka harus berjalan kaki menuju Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Bandar tempat mereka berdua menuntut ilmu. Kedua bocah itu biasanya berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB dan baru sampai di sekolah 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

"Ya tiap kesekolah ya jalan kaki," kata Dela Sapera, siswa lainnya.

Meski videonya viral, namun kedua bocah itu tidak mengetahuinya. Dia hanya tertawa ketika menonton video yang ditunjukkan oleh teman-temannya. (not)

Sabtu, 31 Agustus 2019

Anggaran Senilai 1,7 Milyar Di Prioritaskan Untuk 9 Ruang



PACITAN – lensapacitan.com, Dua lembaga sekolah terdampak pembangunan waduk tukul di Desa  Karanggede Kecamatan Arjosari akan direlokasi ketempat yang baru. Saat ini pemeritah menganggarkan 1,7 miyar rupiah,untuk pembangunan 2 gedung dengan 9 ruang yang  ditargetkan rampung  akhir desember nanti. “untuk tahap awal, kita bangun 9 ruang, 3 untuk SMP dan untuk SD,” kata Whhyono, Kasi Sarpras Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan. 

Ia menambahkan, pembangunan dua gedung lembaga sekolah yang terdampak pembangunan proyek Waduk Tukul di Kecamatan Arjosari saat ini masih dalam tahapan evaluasi lelang. Anggaran senilai 1,7 milyar tersebut rencananya akan di prioritaskan untuk mendirikan 9 ruang, yakni 6 ruang untuk sekolah SDN 2 Karanggede dan Smp Negeri 4 Arjosari. Sementara untuk kantor ruang guru akan menyusul.

Pembangunan dua lembaga sekolah itu di targetkan rampung pada bulan Desember mendatang.hal ini berdasarkan surat yang di layangkan dari PT Brantas Adipraya selaku kontraktor pembangunan waduk tukul, peminjaman lokasi sekolah tersebut hanya di batasi waktu sampai bulan desember. Sementara pada awal tahun 2020 sekolah tersebut di harapkan sudah pindah. Karena area tersebut akan segera dibangun. Lahan untuk relokasi sekolah pun telah disiapkan, yaitu berjarak sekitar dua ratus meter dari gedung sekolah yang baru. “semoga semua proses bisa berjalan sesuai rencana, dan bisa selesai tepat waktu,” tambahnya. 

60 siswa Sekolah Dasar Negeri Karangede 2 dan 38 Siswa Sekolah Menengah Pertama 4 Arjosari masih melakukan proses belajar mengajar di gedung sekolah yang dipinjam sementara kepada PT Brantas Abipraya. Ia berharap agar proses  lelang serta pengerjaan gedung dua lembaga sekolah tersebut bisa berjalan sesuai jadwal, mengingat hampir memasuki musim penghujan. 

“yang menjadi tantangan adalam musim penghujan nanti, sehingga kami sarankan kepada pemenang tender untuk melengkapi material tersebih dahulu sebelum musim penghujan datang,” pungkasnya. (not)

Selasa, 27 Agustus 2019

Terdampak Proyek Waduk Tukul, Dua Lembaga Sekolah Di Paksa Relokasi Tahun Ini

ARJOSARI - lensapacitan.com, Dua lembaga pendidikan yaitu sekolah dasar negeri 2 Karanggede dan Sekolah menengah pertama Negeri 4 Arjosari terpaksa relokasi. PT Brantas abipraya sebagai kontaktor proyek memberi tenggang waktu hingga  akhir tahun 2019. Meski sudah mempunyai rancangan tempat relokasi, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda pengerjaan.

Proyek pembangunan gedung sekolah tersebut informasinya menelan anggaran 1,7 milyar dan saat ini beru memasuki tahap lelang di Unit Lelang dan Pengadaan Pacitan dan tahapan lelang paling lambat di targetkan selesai dalam satu bulan ke depan.

"Sesuai kesepakatan, peminjaman gedung sekolah berakhir pada akhir tahun ini," kata Arif Triatmoko, Kepala sekolah SMPN 4 Arjosari.

Pihaknya pun mengkhawatirkan jika pengerjaan sekolah tersebut  sewaktu-waktu mengalami keterlambatan, karena anak didiknya harus menghadapi ulangan semester. Ia berharap pembangunan sekolah itu segera di kerjakan mengingat waktu peminjaman tempat hanya tinggal 4 bulan lagi.

"Mudah mudahan proses pembangunan tidak ada kendala dan berjalan sesuai rencana, sehingga siswa kami yang akan melalsanakan ujian semester tidak terganggu proses belajar mengajarnya," jelasnya

Sementara itu PT Brantas Abipraya kontraktor pembangunan waduk tukul sudah dua kali melayangkan surat ke sekolah untuk segera pindah. meski demikian dari dinas terkait meminta kelonggaran waktu sampai dengan bulan desember mendatang. (not)

Kamis, 25 April 2019

Siswa Naik Truk Sejauh 10 KM, Untuk Mengikuti UNBK

Siswa Naik Truk Sejauh 10 KM, Untuk Mengikuti UNBK


ARJOSARI - lensapacitan.com, Perjuangan para siswa kelas IX SMPN 3 Arjosari untuk mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) layak diacungi jempol. Mereka rela berdesakan diatas mobil pikup untuk dapat mengikuti UNBK kali pertamanya. Ini terpaksa mereka lakukan karena tidak memiliki sarana melakukan UNBK, mereka harus numpang di SMPN 1 Arjosari yang jaraknya 10 KM dari sekolah asal. "tahun sebelumnya kita masih ujian dengan kertas dan pensil," ujar Sutariyono Kepala SMPN 3 Arjosari





Lantaran jarak SMP 1 dan 3 Arjosari cukup jauh, Sutariyono memilih menggunakan pikup untuk mengangkut para siswa sampai tujuan. Beruntung, salah seorang wali murid rela meminjamkan kendaraan roda empat tersebut sebagai modal angkutan dadakan. Alat transportasi itu dipilih lantaran lokasi SMPN 3 sendiri berada disekitar bukit.





Sutariyono mengungkapkan sejatinya sekolah memiliki 9 komputer untuk ujian, belum termasuk laptop yang dimiliki para guru. Namun, dirinya mengaku enggan ambil resiko, mengingat kondisi cuaca tak menentu dan rawan mati listrik. Ditambah, jaringan internet di lokasi tersebut masih menggunakan wireless nirkabel, hingga internet kerap naik turun tak stabil. Atas pertimbangan tersebut, kami putuskan untuk numpang daripada membuat waswas, ungkapnya (not)


Selasa, 23 April 2019

Internet Ngadat, UNBK Hari Pertama Sempat Molor

Internet Ngadat, UNBK Hari Pertama Sempat Molor


PACITAN – lensapacitan.com, Hari pertama ujian nasional
berbasis komputer (UNBK) mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia tingkat SMP di
Pacitan berjalan cukup lancar. sebagian sekolah masih numpang lantaran
keterbatasan komputer namun dari 70 sekolah seluruhnya bebas dari ujian
nasional kertas dan pensil (UNKP). ‘’sebagian sudah menggunakan komputer secara
mandiri namun sebagian masih ada yang numpang, ,’’ ujar Bupati Pacitan
Indartato kemarin (22/4)





Bupati mengungkapkan hingga sesi kedua ujian berlangsung tak
didapati adanya laporan gangguan. Ia pun bersama jajarannya meninjau langsung
ujian di beberapa sekolah seperti MTSN 1 Pacitan, SMPN 1 serta 2 Pacitan. Meski
terpantau lancar namun dirinya berharap Pacitan bebas dari potensi gangguan
listrik. Terutama adanya perubahan cuaca beberapa hari terakhir. ‘’ semoga tak
ada gangguan kita sudah koordinasikan dengan berbagai pihak, kita harap sekolah
juga menyiapkan ganset,’’ terangnya disela sidak di SMPN 2 Pacitan





Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim,
Bambang Agus Susetyo yang turut meninjau UNBK di Pacitan mendapati salah satu sekolah
di Pringkuku molor setengah jam. Pasalnya, jaringan internet di sekolah
tersebut ngadat. tapi, hal tersebut tak berdampak signifikan pada jalannya
ujian. ‘ada satu sekolah agak mundur setengah jam, jaringannya bermasalah,’’
jelasnya

Selain permasalahan sumber listrik, menurutnya kekurangan
komputer masih jadi persoalan. Pasalnya mayoritas sekolah masih menjalankan
ujian dalam tiga sesi. Sejatinya kementrian pendidikan dan kebudayaan
(Kemendikbud) tiap tahun mendistribusikan perangkat komputer ke tiap sekolah
yang dirasa perlu. Menggiat UNBK sendiri lebih praktis dan hemat anggaran
ketimbang UNKP. “ diharapkan Pacitan lekas mengusulkan dan kita bantu untuk
pengadaannya ,’’ ungkap Bambang. (not)




Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi