Klik Pacitan: Pariwisata
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 September 2021

Wisata Ditutup, Pengelola Jasa Pariwisata Beralih Profesi



PACITAN, lensapacitan.com Keberadaan limbah  cangkang kerang sering kali diangkap sampah biasa oleh masyarakat. Namun ditangan kreatif Wied Dewa warga Kelurahan Baleharjo Pacitan ini. Cangkang kerang diolah menjadi hiasan kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi.

Pria yang berprofesi sebagai pengelola jasa pariwisata ini, memanfaatkan waktu luangnya ditengah penutupan obyek wisata imbas dari pandemi Cavid-19. Ia membuat berbagai kerajinan mulai tood bag , sling bag dan juga dompet.  Kerajinan buatannya semakin menarik dengan tambahan cangkang kerang yang ditempel sebagai hiasan.

"Saya melihat limbah paling banyak di pantai  adalah kerang yang tidak berguna ternyata masih bisa kita  gunakan,” ujar Wied.

Ayah Salini Rengganis ini mengaku tidak kesulitan dalam membuat berbagai kerajinan tas. Awalnya ia menjahit sesuai pola yang diinginkannya dengan mengkombinasikan kain tenun sumba, karung goni, cangkang kerang dan juga kulit sapi bekas, semua bahan yang digunakan adalah limbah.

Dimasa PPKM ini, ia mampu menjual sebanyak 200 buah tas dan dompet. Satu buah hasil kerajinannya ia bandrol dengan harga mulai dari Rp.75 ribu hingga Rp.100 ribu. Pasaran online menjadi andalannya. Tas bikinanya sudah terjual ke berbagai daerah, seperti Ponorogo, Surabaya hingga Jakarta. (not)


Kamis, 09 September 2021

Desain Watu Mejo Mangrove Park, Rumah Zakat Kolaborasi Dengan UGM


PACITAN - lensapacitan.com, Pembangunan konservasi mangrove di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan terus dikebut. Setelah sebelumnya membangun posko pantau, rabat jalan dan jembatan apung serta tempat sandar perahu, kini komunitas jangkar segoro kidul tengah membuat gazebo lokasi konservasi, bahkan untuk menambah keindahan, sejumlah area spot selfie dibuat untuk memanjakan pengunjung wisata. 

Pembangunan gazebo sebagai rest area pengunjung ini akan difungsikan juga sebagai tempat edukasi mangrove dan  meeting room serta galery home industri berbahan dasar mangrove. Kapasitasnya bisa menampung sekitar 60 orang, bahkan fasilitas MCK dan mushola juga disediakan di tempat ini. 

Untuk urusan desain, Rumah zakat ini berkolaborasi dengan desainer asal Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ini dilakukan agar kedepan pembangunan desa wisata konservasi mangrove ini lebih menarik.  

Watumejo Mangrove Park menjadi nama obyek wisata edukasi yang ada di muara sungai Pancer door ini. 

"Ini merupakan terobosan inovasi yang kita gagas bersama Rumah Zakat Action dibantu design layout dan gambar rancang bangun oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang kita namai Watumejo Mangrove Park" ungkap Slamet ketua Kelompok Tani Mangrove Jangkar Segoro Kidul (isw/not)

Senin, 06 September 2021

Ini Cara Rumah Zakat Berdayakan Warga Bangun Obyek Wisata Konservasi Mangrove


PACITAN - lensapacitan.com, Berada di wilayah pesisir, Desa Kembang, Kecamatan Pacitan terus berupaya mewujudkan desa tangguh pesisir. Mereka yang menamainya komunitas Jangkar Segoro Kidul ini didampingi oleh Rumah Zakat untuk melestarikan mangrove di Desa Berdaya Kembang.

Komunitas yang telah berbadan hukum Kemenkumham sejak setahun yang lalu tersebut merupakan motor penggerak bergeliatnya kegiatan konservasi mangrove di wilayah tersebut. Mereka yang berjumlah 25 anggota ini mendirikan basecamp di Dusun Kiteran, Desa Kembang.

"Kami mendirikan basecamp sebagai tempat diskusi dan musyawarah dalam mengembangkan wisata konservasi mangrove sekaligus mitigasi bencana," jelas Indar Siswoyo Relawan Inspirasi Rumah Zakat.

Selain berorientasi pada menjaga kelestarian alam penanaman mangrove itu juga untuk menjaga pantai dari abrasi air laut pasang sekaligus berfungsi sebagai greenbelt penahan dan pemecah gelombang besar di wilayah pesisir pantai selatan, serta menjaga biota air disekitar area mangrove.



Model pemberdayaan yang diterapkan Rumah Zakat dengan mendampingi proses kegiatan kelompok mulai dari perencanaan kegiatan, administrasi, kolaborasi dengan stakeholder, pembangunan infrastruktur penunjang serta evaluasi kegiatan. Semua dilakukan dengan metode partisipasi tidak jarang diskusi dilakukan di pinggir kali lokasi start untuk trip wisata perahu.

"Kami merasa sangat bersyukur atas apa yang telah dilakukan Rumah Zakat mendampingi kami mewujudkan mimpi-mimpi kami," tutur Slamet, Ketua Kelompok.

Slamet berharap hasilnya nanti juga akan berdampak pada sektor perekonomian. Yaitu dengan memanfaatkan area konservasi mangrove sebagai tempat wisata konservatif dengan mengangkat kearifan lokal berupa wisata perahu memanfaatkan perahu milik nelayan setempat.

"Jadi tidak hanya kami yang mendapatkan manfaat, warga dan nelayan kami juga bisa terangkat ekonominya dengan penyewaan perahu kepada wisatawan, "pungkasnya (isw/not)

Rumah Zakat Canangkan Rambu Penunjuk Arah Evakuasi, Titik Kumpul Dan Peta Jalur Evakuasi Tsunami


PACITAN - lensapacitan.com, Sebagai upaya dalam memberikan edukasi terhadap masayarakat yang berdomisili di zona merah bencana tsunami salah satunya di Desber Kembang Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan Rumah Zakat Action mengupayakan adanya rambu penunjuk arah jalur evakuasi dan titik kumpul serta peta jalur evakuasi.

Pemasangan 12 paket rambu penujuk arah jalur evakuasi dan titik kumpul ini rencananya akan dipasang di 5 Dusun wilayah Desa Kembang dan 2 lokasi titik kumpul. 

Sedangkan peta jalur evakuasi rencananya akan dipasang di 5 titik lokasi strategis di wilayah Desa Kembang untuk peta berukuran 1.5m x 2m rangka besi. Selain itu di masing masing rumah warga sejumlah 675 dan 25 fasum akan dipasang Sticker peta jalur evakuasi.



Hal ini sebagai upaya dalam memberikan edukasi sekaligus pengingat kepada masyarakat maupun pengunjung akan arah evakuasi dan titik kumpul yang telah dikaji dan disepakati bersama.

"Saat ini logistik masih tahap pengerjaan diharapkan bisa terealisasi bulan September tahun ini" ungkap Indar Siswoyo Relawan Inspirasi Rumah Zakat Desber Kembang Pacitan.

Senin, 16 Agustus 2021

Wisata Ditutup, Mahasiswa Bersihkan Pantai Srau

 

PRINGKUKU, lensapacitan.com, Minggu pagi, berlokasi di Pantai Srau sejumlah mahasiswa berkolaborasi dengan pemerintah  desa dan komunitas pecinta lingkungan melakukan kegiatan bersih pantai. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka program kegiatan KKN yang tengah berlangsung di Desa Candi sekaligus merayakan HUT Kemeredekaan RI ke-76 yang saat ini masih berlangsung di masa pandemi. Kegiatan yang dimulai dari pukul 9.30 WIB ini berlangsung hingga lewat tengah hari, fokus kegiatan adalah membersihkan pesisir dari sampah serta memilah sampah dan melakukan trash audit untuk mengetahui jenis sampah anorganik apa saja yang ditemukan di sepanjang garis pantai.

Kegiatan yang dikawal oleh komunitas pecinta alam “Trash Hero” ini juga sudah diasosiasi dengan kegiatan yang sama berskala global dimana trash audit dalam fungsinya bisa mengetahui penyumbang sampah anorganik terbesar dari jenis apa, dan bahkan bisa mengetahui dari produk yang dibuat dari mana saja, dengan harapan akan ada solusi dari perusahaan pembuat produk agar tidak menimbulkan maslaah yang berakibat ke lingkungan.



Menurut mahasiswa penggagas kegiatan ini sebenarnya pelaksanaan KKN pada saat pandemi lebih sulit dilaksanakan, tentu saja faktor utamanya adalah kesulitan dalam merencanakan kegiatan dengan tetap bisa mengutamakan menjaga jarak dan tidak memicu kerumunan, terlebih pada masa pemberlakuan PPKM seperti saat ini. “Karena pemberlakuan PPKM kami mencoba membuat bebrapa kegiatan yang tidak harus berkontak ke manusia, dan tetap bisa prokes. Salah satunya ini, karena kan juga sekarang pariwisata sedang tutup, dan dari desa alhamdulillah juga medukung dan memberi izin.”, ujar Annisa salah satu mahasiswa.

Dalam pemapaparannya komunitas pencinta alam “Trash Hero” juga turut senang bisa bsa andil dalam kegiatan ini. Menurutnya setelah pemberlakuan PPKM dan penutupan wisata, komunitasnya sudah off melakukan clean-up pantai.

Dari kegiatan ini, harapannya pariwisata yang dipaksa untuk ditutup bagi wisatawan karena pandemi dan pemberlakuan PPKM pantai tetap terus dijaga keadaannya, agar nantinya saat PPMK dicabut dan dunia terbebas dari pandemi covid-19 dan pariwsata sudah dibuka, Pantai Srau nantinya akan langsung siap untuk dibuka tanpa recovery dengan kondisi dan fasilitas yang baik.


Kamis, 26 Maret 2020

Batasi Penyebaran Corona, “Lockdown” Seluruh Obyek Wisata Di Pacitan



PACITAN - lensapacitan.com,  Antisipasi penyebaran virus corona atau covid-19, Pemerintah Kabupaten Pacitan resmi menutup 9 obyek wisata di pacitan yang dikelola dinas pariwisata pemuda dan olahraga (Disparpora) setempat, mulai senin 23 maret 2020. Kebijakan tersebut menyusul keputusan gugus tugas peningkatan kewaspadaan terhadap covid-19.

Penutupan tersebut rencananya akan berlangsung hingga akhir maret mendatang atau sampai masa inkubasi pertama. kesembilan obyek wisata itu diantaranya Pantai Pancer Door, Pantai Klayar, Pantai Watu Karung, dan Goa Gong.

“Semua destinasi wisata yang baik dikelola pemerintah Daerah, pemerintah Desa maupun yang dikelola swasta, mulai tanggal 23 sampai dengan tanggal 31 maret ditutup sementara” ungkap Andi Valiandra.(25/03/20).

Tidak hanya wisata yang dikelola pemerintah, namun obyek wisata tang dikelola swasta seperti Pantai Teleng Ria juga di tutup sementara.

Diharapkan dengan penutupan sementara ini, Pacitan bisa terhindar dari pandemik covid-19, seiring dengan langkah-langkah pencegahan yang dilakukan Pemkab melalui gugus tugas covid-19.

“Di ikuti dengan seluruh kegiatan didalamnya, termasuk hotel, homestay restoran, karaoke kita minta untuk tutup, ini dilakukan dalam rangka membatasi penyeberan Virus Corona di Pacitan.” Imbuhnya.

Meski langkah penutupan ini memiliki dampak terhadap ekonomi warga, namun dengan cara ini diharapkan dapat mencegah penyebaran Virus Corana.(not)

Rabu, 25 Maret 2020

Pelaku Usaha di Sektor Pariwisata Harus Kencangkan Ikat Pinggang Sementara

PACITAN - lensapacitan.com, Pandemi Corona Virus Disease melumpuhkan roda perekonomian warga, tak terkecuali jasa penginapan di Pacitan. Para pelaku usaha ini harus menelan pil pahit tanpa pilihan lain, selain berharap pandemi segera berlalu.

Pendapatan mereka dalam satu bulan terakhir turun drastis hingga 100 persen. Seperti yang  terjadi pada salah satu lokasi penginapan yang berada di area wisata Watu karung, Kecamatan Pringkuku Pacitan.

Salah satu pengelola Homestay di area wisata Aris Sarosa menuturkan, Sebelum Wabah Corona Virus merebak, kunjungan biasanya ramai di kunjungi wisatawan yang berlibur, kamar yang disediakan pun seringkali penuh saat akhir pekan,  namun semenjak corona mewabah banyak wisatawan yang yang memperpendek masa tinggalnya, bahkan beberapa diantaranya membatalkan wisata di pacitan yang sebelumnya direncanakan.

“kami hanya bisa berharap wabah ini segera berakhir, agar aktifitas bisa segera berjalan seperti semula” Tutur Aris Sarosa.(25/03/20)

Sementara itu Sekertaris Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia Pacitan, Chrismilia Natalia mengaku penurunan pengunjung restoran maupun hotel sangat drastis, Setelah pemerintah memberlakukan penutupan sementara objek wisata, hingga dalam beberapa hari ini tidak ada pengunjung sama sekali.

“penurunan mulai terasa setelah ada penetapan psychal distancing beberapa minggu lalu, jadi acara meeting, gathering ada juga seminar yang semula direncanakan batal” ungkap Chrismillia.(25/03/20)

Meski demikian, Perempuan yang sering disapa Ci Nonik itu sangat mengapresiasi langkah pemerintah menetapkan psychal distancing.

“keputusan Psychal distancing ini sangat bagus, artinya masyarakat juga mengindahkan apa yang ditetapkan pemerintah, kita berharap semoga apa yang kita perjuangkan ini berhasil” pungkasnya.

Meski demikian, seluruh karyawan tidak dirumahkan mereka tetap bekerja seperti biasa dan melayani pemesanan makanan delivery order.

Diketahui saat ini pemerintah Kabupaten Pacitan telah secara resmi menutup obyek wisata yang ada di Pacitan, dengan diberlakukan penutupan lokasi wisata, Mengharuskan para pelaku usaha di sector wisata harus mengencangkan ikat pinggang hingga Pandemi berakhir dan pemerintah membuka kembali obyek wisata hingga geliat perekonomian berputar seperti semula.(not)

Senin, 16 Maret 2020

Wabah Virus Corona, Kunjungan Wisatawan Asing Ke Pantai Watukarung Menurun


PRINGKUKU - lensapacitan.com, Wabah virus corona berdampak pada  kunjungan wisatawan di Pantai Watu Karung, Pringkuku, Pacitan. Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah pelancong asingnya anjlok hingga 50 persen.

‘’Biasanya terlihat hilir mudik, tapi pagi ini baru dua orang,’’ kata Kepala Desa Watu Karung Wiwit Peni Dwi Antari, Jumat, (13/3/2020).

Menurut Wiwit, berkurangnya jumlah pengunjung hanya pada wisatawan asing. Sedangkan wisatawan lokal masih normal. Pihaknya memang belum melakukan penutupan objek wisata ataupun pembatasan. ‘’Tapi, kami gencar sosialisasi kerja sama dengan dinas kesehatan,’’ ujarnya.

Pantai Watukarung memang menjadi pantai dengan pengunjung asing paling banyak. Meski demikian, pihaknya tidak memberikan proteksi terhadap keluar masuknya wisatawan.

Wiwit meminta pemilik hotel atau penginapan lebih responsif terhadap wisatawan asing. Memberikan informasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan tidak menjustifikasi turis membawa virus Covid-19. ‘’Yang terpenting adalah proteksi diri,’’ pungkasnya. (not)

Sabtu, 28 Desember 2019

Dua Wisatawan Asal Jombang Tewas Tenggelam Di Pantai Pancer Door Pacitan



PACITAN - Lensapacitan.com, Nasib nahas diamalami Yoyon Widarto, 36 dan rombonganya. Pria asal kelurahan Jumbatan, Kecamatan/kabupaten Jombang tersebut tewas usai terseret arus di sisi barat pantai pancer door, Pacitan (28/12/2019). Korban tewas setelah berusaha menyelamatkan salah seorang anggota keluarganya yang turut terseret arus.

Kecelakaan tersebut berawal saat, Yoyon dan ke 20 rombongannya tiba di Pacitan menghabiskan libur akhir tahun mereka. Menginap di Barean Homestay, sekitar pukul 13.00 rombongan tersebut memutuskan bermain air di pantai tak jauh dari lokasi penginapan. Tak bermain air, tiba-tiba salah seorang bocah berusia 10 tahun tombongan tersebut terseret arus.

Yoyon yang berada tak jauh dari bocah kelas lima SD tersebut langsung bergegas berenang menolong. Nahas, saking paniknya korban tak menyadari keluarganya tersebut telah diselamatkan warga setempat yang kebetulan di lokasi.

‘’Dan korban ini terus berenang hingga ketengah sekitar 50 meter, akhirnya tenggelam,’’ kata Kapolres Pacitan AKBP Sugandi ditempat kejadian.

Tenggelamnya Yoyon, membuat keluarga lainnya panik. Pun, Sofi Hidayat, 21 yang mengetahui pamannya tersebut terseret mencoba ikut menolong. Nahas, warga Dusun Godekan, Jabon, Jombang tersebut justru ikut jadi korban dan tenggelam.

‘’Keduanya tewas setelah sempat dilarikan ke rumah sakit umum dr Darsono Pacitan untuk mendapat perawatan, memang informasi dari warga setempat disana memang terdapat palung,’’ jelas Sugandi. (not/yon)

Selasa, 17 Desember 2019

Kembangkan Desa Wisata, TPPI Pacitan Study Banding Ke Desa Wisata Sepakung


PACITAN - lensapacitan.com, Study banding bukan monopoli kalangan anggota legislatif saja. Sejumlah Tenaga Pendamping Profesional Indonesia (TPPI) Kabupaten Pacitan Jawa Timur selama dua hari mulai dari tanggal 17 hingga 18 Desember 2019 mengadakan kegiatan studi banding ke Desa Wisata Sepakung Kecamatan Banyu Biru Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah.

"Setidaknya ada sekitar 50 peserta Tenaga Pendamping  Profesional Indonesia/TPPI Kabupaten Pacitan yang mengikuti kegiatan tersebut,  yang terdiri dari Tenaga Ahli,  Pendamping Desa Pemberdayaan, Pendamping Desa Tenaga Infrastruktur dan Pendamping Lokal Desa," kata Nur Wachidah Rosiani Penggagas kegiatan studi banding.

Sejak Dana Desa dikucurkan pemerintah mulai tahun 2015, pembangunan di desa semakin dinamis dan akseleratif. Banyak sekali proyek pembangunan infrastruktur pertanian, jalan desa, gedung sekolah, gedung olahraga, bahkan pembangunan embung desa.M

Menghindari penggunaan dana desa yang sebagian besar diwujudkan ke program-program infrastruktur,  TPPI Kabupaten Pacitan, tergerak berinisiatif melakukan kegiatan study banding untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam pengembangan desa wisata di wilayah Pacitan.

Sejumlah desa di Kabupaten Pacitan sangat potensial untuk digarap sebagai desa wisata seperti Sentono Gentong misalnya yang saat ini sudah mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Nur Wachidah Rosiani, juga berharap study banding ke desa wisata ini dapat meningkatkan kompetensi dan memunculkan inovasi dalam pengelolaan pembangunan desa di wilayah Kabupaten Pacitan. Selain itu para peserta setelah ini diharapkan mampu menggali potensi wisata di desanya masing-masing.

Lebih lanjut, kegiatan study banding tersebut tidak hanya sebatas berwisata dan bersenang-senang namun ada ide-ide kreatif dan gagasan yang ditangkap setelah kegiatan selesai.

Sementara itu Septian Dwi Cahyo, menambahkan, "Kegiatan ke Desa Sepakung ini sangat bermanfaat dalam kegiatan pendampingan pengembangan potensi desa melalui pengelolaan obyek wisata. Semoga kegiatan ini bisa diagendakan setiap tahunnya  ke tempat-tempat yang memiliki kemiripan wilayah dan potensi dengan Kabupaten Pacitan," pungkasnya. (ip/not)

Minggu, 01 September 2019

Layang-layang Naga Sepanjang 130 Meter Hiasi Langit Pacitan

PACITAN - lensapacitan.com, Puluhan penggemar layang-layang di Kabupaten Pacitan mengglear festival layang layang di Pantai Teleng Ria. Festival ini digelar dalam rangka peringatan 1 Muharam 1441 Hijriah, salah satu jenis  layang-layang yang menjadi perhatian warga adalah layang-layang naga dengan panjang 130 meter.

"Bagus-bagus sih, tapi yang menurutku paling bagus ya yang naga terpanjang itu," Kata Dafenda Serlian Diansyah (16) tahun, pelajar asal Kabupaten Ponorogo.

Puluhan penggemar layang-layang se-kabupaten Pacitan menggelar festifal layang-layang hias di pantai Telengria, Pacitan berbagai jenis layang-layang dengan berbagai jenis berbagai karakter dan tema,  setelah semua layang-layang diterbangkan, keindahan menghiasi langit Pantai Telengria.

"Ada yang bentuk pesawat, kapal nelayan, tokoh pewayangan, naga dan lain-lain," Jelasnya.

Salah satu layang-layang yang menarik perhatian warga adalah, layang-layang berkepala naga dengan panjang 130 meter, yang dibuat oleh Komunitas Mojesu, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan.

Layang-layang tersebut beberapa kali dicoba untuk diterbangkan, namun karena pantai kurang luas, ekor naga tersebut menyangkut diatas pohon.

"Karena Tempatnya kurang luas, sehingga untuk nerbangkan naga sepanjang itu susah," Kata Gampang Rahmad Abdullah, Ketua komunitas Mojesu.

Peserta pun terpaksa berpindah tempat untuk mencari lokasi yang lebih luas. setelah beberapa kali percobaan, layang-layang naga tersebut berhasil diterbangkan oleh puluhan orang.

"Kita butuh 20 orang, agar layang-layang naga ini bisa terbang," Ungkapnya.

Proses pembuatan layang-layang tersebut memakan waktu hingga 3 bulan, dan satu buah layang-layang bisa menghabiskan uang enam juta rupiah.

"Untuk membuat 1 jenis layang-layang, kami bersama 4 anggota komunitas bisa sampai 3 bulan, dan butuh modal 5-6 juta rupiah, tapi kita senang aja. Pungkasnya (not)

Rabu, 24 Juli 2019

Unesco Lakukan Revalidasi Geopark Gunung Sewu Di Pacitan

PACITAN - lensapacitan.com, Geopark Gunung Sewu di Kabupaten Pacitan kembali didatangi tim asesor united nations educational  scientific and cultural organization (unesco). Kedatangan asesor ini merupakan agenda 4 tahun sekali guna melakukan revalidasi kelayakan kawasan gunung sewu sebagai warisan dunia.

Sejumlah lokasi Geopark Gunung Sewu atau taman bumi di Kabupaten Pacitan yang merupakan bagian dari Global Geopark Network (GGN) divalidasi tim asesor dari united nations educational scientific and cultural organization (Unesco) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Unesco melakukan revalidasi atau penilaian ulang kelayakan kawasan pegunungan sewu yang menyandang predikat sebagai kawasan geopark. Kegiatan revalidasi ini rencanaya di laksanakan selama tiga hari.

Kabupaten Pacitan masuk ke dalam kawasan pegunungan sewu yang telah mendapat predikat unesco global geopark  bersama dua kabupaten lain seperti Kabupaten Gunung Kidul, dan Kabupaten Wonogiri. Predikat ini diraih pada september 2015 silam setelah melalui proses yang panjang. Setiap empat tahun sekali, predikat ini akan dievaluasi oleh asesor dari unesco terkait predikat kelayakanya menyandang predikat global. (not)

Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi