Klik Pacitan: Kesehatan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Agustus 2021

Perjuangan Nakes Door To Door Berikan Vaksinasi Warga ODGJ Dan Disabilitas


TULAKAN - lensapacitan.com, Sejumlah petugas Vaksinator dari Puskesmas Bubakan, Kecamatan Tulakan, Pacitan (27/8/2021) harus menyusuri jalan setapak untuk menuju rumah pasien dengan gangguan jiwa. Tidak hanya melalui medan sulit saja, namun jarak rumah mereka rata-rata cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki belum lagi mereka harus membawa sejumlah peralatan medis. 

Tidak hanya itu, para petugas medis ini juga harus mengajak Polisi untuk mengantisipasi jika ada pasien mengamuk akibat kondisi kejiwaan yang labil. Sedikitnya terdapat 38 warga dengan kondisi gangguan jiwa serta disabilitas yang harus diberikan Vaksinasi Covid 19 diwilayah Kecamatan Tulakan. Dari jumlah tersebut beberapa orang diantaranya telah berinisiatif mendatangi Puskesmas setempat untuk mengikuti vaksinasi. 

"Sebelumnya kami telah mengundang 38 warga penyandang disabilitas dan ODGJ ke Puskesmas, namun beberapa warga tidak hadir karena kondisi kejiwaannya, makanya kita datangi kerumah-rumah mereka, dan mengajak anggota kepolisian," jelas dr. Rini Endrawati, Kepala Puskesmas Bubakan. 

Meski banyak kendala yang harus dihadapi, namun cara vaksinasi door to door ini harus dilakukan. Karena jika mengundang mereka ke Puskesmas, belum tentu mereka akan bersedia datang. 

"Ini sebagai upaya kami mencegah penyebaran virus Covid-19 dengan cara memberikan vaksin, " pungkas Rini. (not) 

Senin, 23 Maret 2020

Antisipasi Virus Corona, Jamu Tradisional Diburu Warga


PACITAN - lensapacitan.com, Selain empon-empon, jamu tradisional kini makin ramai diburu warga Pacitan. hal ini lantaran jamu dipercaya berkhasiat untuk  meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh dari berbagai penyakit terutama mencegah dari virus Corona atau covid-19.

Penjual jamu tradisional pun kian banyak didatangi pembeli. ‘’paling banyak peminatnya ya jamu anti corona’’ kata Yatin salah seorang penjual jamu di Pasar Minulyo Pacitan.

Para pembeli tersebut berasal dari berbagai kalangan dan usia. Selain diminum di tempat, banyak juga yang pesan untuk di konsumsi keluarganya di rumah.

Pun harganya disebut masih tergolong murah, dibandingkan harga empon-empon tau bahan dasarnya. Seperti temulawak misalnya, dari harga 8 ribu, kini berganti menjadi 30 ribu perkilo, sementara kencur semula 10 ribu, kini mencapai 60 ribu rupiah, perkilogramnya.

Sedangkan berbagai jenis varian jamu miliknya,  Satu botolnya ukuran sedang atau 600 ml, di beri harga 5 ribu rupiah, sementara untuk gelas kecil berukuran sekitar 25 ml, harganya dibanderol 2 ribu rupiah. ‘’ya meningkat sekitar 50 persen, dibanding biasanya’’pungkasnya. (not)

Sabtu, 16 November 2019

Remaja Harus Tahu, Apa Itu Stunting dan Efeknya? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mencegahnya


PACITAN - lensapacitan.com, Kasus Bayi Stunting menjadi salah satu prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan. Hal itu diungkapkan dr.Eko Budiono, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dalam Seminar Remaja Berprestasi Bebas Anemia dan Pernikahan dini di Gedung Karya Darma Pacitan beberapa waktu lalu.

"Kegiatan ini untuk menumbuhkan kesadaran pelajar tentang bahaya anemia dan cara pencegahannya. Mengajak berperilaku sehat dan berpartisipasi mengingatkan teman di sekolah dan lingkungan," kata Eko.

Dalam Seminar yang diikuti perwakilan pelajar dari 24 Puskesmas sekabupaten Pacitan itu sebagian besar dihadiri oleh remaja putri. Karena remaja putri yang mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah berisiko melahirkan anak yang mengalami kekerdilan atau "stunting" dikarenakan defisit gizi.

Remaja perempuan membutuhkan lebih banyak zat besi dibanding remaja laki-laki karena saat menstruasi, zat besi turut keluar bersama darah. Karena remaja perempuan lebih banyak butuh zat besi, hal inilah yang membuat remaja perempuan berisiko kekurangan zat besi, yang ujung-ujungnya jadi anemia.

Selain menstruasi, penyebab anemia pun bisa datang dari berbagai faktor. Misalnya rendahnya asupan makanan yang mengandung zat besi dan vitamin C, terkena cacing tambang yang menyerap darah dalam usus, malaria, melakukan diet yang tidak tepat, suka melewatkan waktu makan, atau suka melakukan olahraga berat.

Lalu apa itu stunting? Apa saja faktor yang bisa menyebabkan seorang anak menderita stunting?:

1. Apa Itu Stunting?

Menurut deskripsi World Health Organization (WHO) stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak dari gizi buruk, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Seorang anak disebut menderita stunting jika tinggi badan mereka sesuai usia di bawah minus dua standar deviasi hingga minus tiga standar deviasi dari median Standar Pertumbuhan Anak yang ditetapkan WHO.

2. Penyebab Stunting

Berdasarkan kerangka kerja WHO ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan stunting pada anak. Beberapa di antaranya adalah:

- Nutrisi yang kurang saat kehamilan dan menyusui.

- Pengetahuan ibu yang kurang tentang gizi.

- Stimulasi dan kegiatan untuk anak yang tidak cukup.

- Sanitasi dan air bersih yang tidak mencukupi.

- Akses terhadap pelayanan kesehatan yang terbatas.

3. Gejala Stunting

Tidak semua anak dengan perawakan lebih pendek dari teman sebayanya mengalami stunting. Menurut Kemenkes, balita yang mengalami stunting bisa diketahui jika saat diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, hasil pengukurannya ini berada pada kisaran di bawah normal.

Selain perawakan tubuh anak yang lebih pendek dari teman-temannya, ada juga beberapa ciri lainnya yang menandakan gejala stunting yaitu:

- Pertumbuhan yang lambat.

- Pubertas terlambat.

- Ketika mencapai usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam.

- Pertumbuhan gigi terlambat.

- Kemampuan fokus saat belajar berkurang.

4. Dampak dan Konsekuensi


Stunting di awal kehidupan anak, mulai dari kehamilan hingga usia dua tahun, bisa mengakibatkan dampak yang signifikan terhadap anak. WHO membagi dampak dan konsekuensi ini dalam dua bagian yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

Dampak jangka pendek yang bisa dialami anak antara lain perkembangan kognitif dan pengetahuan yang terhambat serta gangguan kognitif. Selain itu, orang tua juga harus bersiap menghadapi pengeluaran lebih untuk biaya kesehatan anak.

Senin, 23 September 2019

Waspadai Penyakit Ini Saat Musim Kemarau


PACITAN – lensapacitan.com, Saat musim kemarau yang panas seperti sekarang ini, daya tahan tubuh cenderung menurun. Selain itu, udara kering, sumber air berkurang, dan debu membuat orang mudah terserang beberapa penyakit, salah satunya adalah Ispa.

“Salah satu penyakit yang rentan terjadi pada musim kemarau adalah gangguan saluran pernafasan atau Ispa,” Kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan, dr. Eko Budiono.

Tak hanya pancaroba, musim kemarau yang panjang juga bisa menurunkan daya tahan tubuh. Ditambah lagi dengan berkurangnya sumber air bersih dan udara yang kering, membuat lingkungan menjadi semakin tidak sehat. “Orang yang mobilitasnya tinggi rentan terkena penyakit ini,” jelasnya.

Selain itu udara yang panas membuat orang cenderung mengonsumsi air dingin atau es. Kondisi inipun akan merangsang iritasi yang terjadi pada saluran pernafasan atas dan menyebabkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

“Ketersediaan air sebenarnya harus dijaga dan juga sanitasi serta jangan sampai BAB di sembarang tempat. Warga juga harus menjaga pola makan seperti mengurangi makanan pedas dan es,”ujar Eko.

Upaya pencegahan menghindari terpapar dengan udara langsung, tetap mempertahankan banyak minum dan tentu tidak minum air es sehingga saluran pernafasan atas tidak kering dan tidak teriritasi.

“untuk mencegahnya, yaitu dengan memperbanyak minum air putih idealnya 8 gelas  sehari, serta istirahat yang cukup,” Pungkasnya.

Selain ispa, potensi penyakit yang menyerang adalah flu singapura. Menurunnya daya tahan tubuh juga membuat flu singapura atau dalam ilmu kedokteran dikenal dengan hand foot and mouth disease (HFMD) marak di masyarakat, khususnya pada anak-anak. (not)

Kamis, 25 Juli 2019

Status Kejadian Luar Biasa Hepatitis A yang Mewabah Di Pacitan Belum Dicabut

PACITAN - lensapacitan.com, Penetapan status kejadian luar biasa ( KLB) atas mewabahnya virus hepatitis A di Pacitan, hingga saat ini belum dicabut Kamis (25/07/2019). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan dr.Eko Budiono mengatakan, pencabutan status KLB tersebut menunggu hingga masa inkubasi terpanjang penderita sudah terlewati. “ Wabah hepatitis-A di Pacitan sudah bisa dikendalikan, semoga tidak ada lagi penambahan kasus baru. kata Eko Budiono.

Status KLB akan dicabut ketika masa inkubasi terpanjang pada warga yang terpapar hepatitis A sudah terlewati. Sebagai acuan, status KLB akan dicabut apabila dua kali masa inkubasi terpanjang, yakni setelah 100 hari tidak ditemukan penderita baru. Namun, apabila ditemukan kembali kasus baru, maka status KLB akan bertambah panjang.

Pemerintah terus berupaya mencegah adanya penderita baru, dengan sosialisasi dan memberikan kaporit kesejumlah sumber air yang dimanfaatkan warga. Karena tidak menutup kemungkinan akan muncul kasus baru warga yang tertular virus hepatitis A.  Sebab, pemberian klorin pada bak penampungan air baru menjangkau sekitar 90 persen dari total wilayah yang terdampak. “Kami terus berupaya agar tidak ada penderita baru," Pungkasnya. (not).

Selasa, 21 Mei 2019

Polres Pacitan Lakukan Cek Urine Pada Puluhan Sopir Bus

Polres Pacitan Lakukan Cek Urine Pada Puluhan Sopir Bus


PACITAN - lensapacitan.com, Polres Pacitan menggelar tes kesehatan jelang arus mudik di Terminal Bus Pacitan, Selasa (21/5/2019). Pemeriksaan diberlakukan bagi pengemudi serta awak bus Antar Kota Antar Provinsi.

Satu persatu Sopir dilakukan Pemeriksaan medis, tekanan darah, dan cek kesehatan. Mereka juga diwajibkan mengambil sampel urine untuk dilakukan uji lab demi mengetahui kemungkinan penyalahgunaan narkoba.


"Untuk antisipasi. Tujuannya untuk keselamatan penumpang. Jangan sampai sopir pada saat mengemudi pada kondisi sakit atau sedang mengonsumsi minuman keras, bahkan narkoba," Kata Kapolres Pacitan, AKBP Sugandi.






https://youtu.be/zmvx5dVP50k
Sopir Bus Lakukan Tes Urine




Tak hanya melakukan cek kesehatan, Petugas bersama Dishub Pacitan juga memeriksa Armada yang digunakan untuk trasportasi balik lebaran. Diantaranya melakukan pengecekan kelengkapan surat jalan, Kondisi ban hingga cek kelayakan uji emisi. (not)

Jumat, 17 Mei 2019

Bulan Puasa, Stok Darah di PMI Pacitan Menipis



PACITAN - lensapacitan.com, Pacitan dihadapkan pada potensi terganggunya stok darah di markas Palang Merah Indonesia. Hal itu disebabkan semakin menurunnya jumlah masyarakat yang mendonorkan darahnya. Selama
bulan ramadan ini misalnya, aktifitas donor darah berkurang cukup signifikan. Penurunan jumlah pendonor diketahui dari minimnya stok darah golongan A.

‘’Sejak memasuki bulan suci ramadan
memang para pendonor berkurang,’’ ungkap dr. Erisa Maisutadevi Mara, Kepala Unit Transfusi Darah
(UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Pacitan.

Menurut Erisa, dari tahun ke tahun, animo masyarakat untuk mendonorkan darahnya memang menurun ketika memasuki bulan ramadan. Disamping adanya kekhawatiran puasa akan batal, banyak yang juga takut akan kondisi lemas setelah mendonorkan darah.

‘’Memang kita sarankan juga untuk para pendonor datang di malam hari kita buka,’’ terangnya.

Per Rabu (15/5) lalu misalnya, stok darah di PMI cukup minim. Golongan darah A hanya tersisi 5 kantong darah, B dengan 46 kantong, serta O tersisa 61 kantong, untuk AB 44 kantong darah. Erisa berharap dalam waktu dekat pihaknya dapat menyeimbangkan kembali stok darah yang ada.

‘’Kalau hari-hari biasa golongan darah A itu sekitar 20 kantong paling sedikit dan biasanya itu yang paling rendah AB tapi ini masih cukup banyak,’’ tambahnya.
(not)

Jumat, 10 Mei 2019

Tenaga Kesehatan Cantik 'Nongkrong' di Terminal

Tenaga Kesehatan Cantik 'Nongkrong' di Terminal


KOTA – Sebanyak 20 personel tenaga kesehatan ditugaskan di Terminal Tipa A Pacitan. Masing-masing disiagakan untuk melakukan pengecekan kesehatan terhadap awak pengemudi bus selama bulan ramadan tahun ini. Khususnya angkutan antar kota antar provinsi (AKP). ‘’ Mulai kemarin diadakan tes bagaimana kesehatan para awak pengemudi bus untuk meningkatakan kenyamanan dan keselamatan penumpang, ’’ ungkap Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan, Wasi Prayitno.


Untuk awal ramadan ini masing-masing personel kesehatan yang tergabung dalam program public safety canter (PSC) tersebut berjaga selama dua jam. Dimulai pukul 08.00 hingga pukul 10.00. Nantinya berlaku hingga h+15 hari raya idul fitri. Hanya saja h-15 dan dan h+15 hari raya idul fitri kerja mereka meningkat hingga 24 jam. Mereka berjaga siang malam untuk memeriksa dan memberikan pegobatan ringan sopir bus. ‘’ Cuma nanti kerjanya shift-shift-an, ’’ tambahnya.
Pemeriksaan kesehatan belum digelar selama 24 jam saat awal ramadan lantaran jumlah lalulintas angkutan bus di Pacitan belum mengalmai peningkatan signifikan. Menurutnya awalnya ramdan saat ini masih sepi. Peningkatan mulai terjadi kurang lebih sepekan terakhir jelang hari raya. Angkutan yang sebelumnya diangka puluhan bisa mencapai ratusan armada. ‘’ Sedangkan puncaknya diperkirakan tiga hingga lima hari menjelang lebaran, ’’ bebernya.
Wasi menambahkan jika pihaknya bakal memberangkatkan sebelas bus peserta mudik gratis prgram Dishub provinsi dan daerah dari Pacitan. Masing-masing pemudik yang sudah melakukan pendaftaran sejak dua minggu lalu. Sedangkan pemudik yang datang ke pacitan jsutru belum diketahuinya pasti. Alasannya Wasi tidak mengantongi data pendaftar dari luar daerah. ‘’ Jumlah bus yang datang juga nantinya tergantung jumlah pendaftar dari sana, ’’ tambahnya.
Sementara itu, dari pantauan wartawan koran ini sejumlah awak bus mecoba melakukan pemeriksaan kesehatan. Seluruhnya dinyatakan sehat dan layak untuk melanjutkan perjalanan. Bagi awak bus yang kecapekaan, mereka pun diberikan vitamin. Meski begitu, awak bus yang melakukan pemeriksaan bisa dihitung jari. Pasalnya kondisi terminal pun sedang lengang. Saat berita ini dihimpun hanya ada dua bus AKAP yang meunggu penumpang. sedangkan lalulalang penumpang justru tidak begitu terlihat. (not)


Ad Placement

Intermezzo

Travel

Teknologi